JATAM Kuningan Ekspor 2 Ton Ubi Jalar Per Minggu ke Luar Negeri

Penulis: Luthfi Hakim  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 13:56:01 WIB
Petani JATAM Kuningan panen raya ubi jalar di Desa Sembawa, menandai ekspor 2 ton per minggu.

KUNINGAN — Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kabupaten Kuningan membuktikan kualitas produk pertanian lokal melalui panen raya ubi jalar di Desa Sembawa pada Jumat (8/5/2026). Komoditas unggulan ini tercatat telah menembus pasar internasional dengan volume pengiriman rutin setiap pekan.

Ketua JATAM Kuningan, Yuda Klana Geni, menjelaskan bahwa fokus organisasi saat ini adalah mengelola potensi ubi jalar dari sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, nilai ekonomis yang tinggi dan kecocokan lahan di Kuningan menjadi alasan utama pengembangan komoditas tersebut secara masif.

Tembus Pasar Internasional dengan Volume 2 Ton Per Minggu

Ekspansi pasar ke luar negeri menjadi pencapaian signifikan bagi para petani binaan dalam setahun terakhir. Kualitas ubi jalar asal Sembawa dinilai memenuhi standar ketat pasar global sehingga permintaan terus mengalir secara berkelanjutan.

“JATAM berkomitmen penuh dalam pengembangan ubi jalar dari hulu ke hilir. Saat ini, kami bahkan telah menembus pasar internasional melalui ekspor dengan kebutuhan mencapai 2 ton per minggu. Ini membuktikan bahwa produk tani lokal kita memiliki kualitas yang diakui dunia,” ujar Yuda Klana Geni.

Keberhasilan ekspor ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Ketua MPM Nunu Nugraha dan Rektor UM Kuningan Dr. apt. Wawang Anwarudin. Sinergi antara praktisi di lapangan dan kalangan akademisi dinilai mempercepat proses modernisasi pertanian di wilayah tersebut.

Sinergi Akademisi dan Program Beasiswa bagi Petani Muda

Selain fokus pada aspek ekonomi, program ini menitikberatkan pada regenerasi petani melalui keterlibatan generasi milenial. Salah satu kisah sukses datang dari Marsel, seorang anak buruh tani yang kini mampu mengakses pendidikan tinggi berkat sektor pertanian.

Marsel mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Kuningan melalui jalur prestasi sebagai petani binaan. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi pertanian modern yang mengubah pola pikir tradisional dalam mengelola lahan.

“Saya bersyukur karena JATAM membuktikan bahwa menjadi petani bukan berarti berhenti sekolah. Saya bisa bertani dengan teknologi modern sekaligus meraih gelar sarjana,” tutur Marsel.

Melalui momentum panen raya ini, JATAM Kuningan mendorong lebih banyak pemuda untuk terjun ke sektor agrobisnis. Penggunaan teknologi dan inovasi diharapkan menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi daerah berbasis potensi lokal.

Reporter: Luthfi Hakim
Sumber: kuninganmass.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top