PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) resmi menjalankan sistem pengelolaan sampah terintegrasi untuk mengonversi limbah plastik menjadi produk bernilai guna pada Minggu (10/5/2026). Langkah strategis subholding gas Pertamina ini bertujuan menekan angka sampah tak terkelola di Indonesia yang mencapai 109 ton per hari sekaligus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkup internal.
Krisis pengelolaan sampah di Indonesia kini memasuki fase krusial dengan volume timbulan yang terus meningkat. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan potret mengkhawatirkan, di mana sekitar 75 persen atau setara 109 ton sampah per hari berakhir tanpa pengelolaan yang jelas. Kondisi ini memicu polusi lingkungan yang masif serta menyumbang peningkatan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Merespons urgensi tersebut, PGN menginisiasi program ekonomi sirkular yang menyasar pengolahan limbah plastik dari hulu ke hilir. Program ini tidak sekadar menjadi aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan upaya sistematis untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Dalam menjalankan inisiatif ini, PGN membangun ekosistem kerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan rantai pasok sampah berjalan efektif. Perusahaan menggandeng Kertabumi Recycling Centre dan Bank Sampah Al-Bustaniyah sebagai mitra pengolah teknis. Selain itu, aspek edukasi diperluas melalui kolaborasi dengan National Geographic (NatGeo) Indonesia dan Kompas untuk membangun kesadaran publik.
Proses dimulai dari internal perusahaan, di mana karyawan diwajibkan melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Limbah yang terkumpul kemudian dikelola secara kolektif sebelum masuk ke tahap pengolahan akhir menjadi produk baru. Pola integrasi ini diharapkan mampu memutus rantai penumpukan sampah plastik yang selama ini merusak ekosistem lokal.
"Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan," ujar Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre.
Bagi PGN, program ini merupakan instrumen penting dalam mentransformasi budaya kerja internal. Perusahaan berupaya menanamkan kesadaran lingkungan kepada setiap pekerja agar prinsip keberlanjutan menjadi bagian dari operasional sehari-hari, bukan sekadar pemenuhan regulasi di atas kertas.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab. Melalui kolaborasi lintas fungsi, PGN berupaya mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
"Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness ESG di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Program ini juga menjadi wujud nyata komitmen PGN dalam menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan," kata Fajriyah.
Langkah PGN ini diproyeksikan mampu menjadi percontohan bagi BUMN lain dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam strategi bisnis. Dengan mengoptimalkan ekonomi sirkular, emisi karbon dari pembusukan sampah dapat ditekan, sementara masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari produk daur ulang yang dihasilkan. Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari konsistensi pengurangan volume sampah plastik yang dihasilkan dari area operasional perusahaan.