JAWA BARAT — Rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS, atau sudah melemah 75 poin (0,43 persen) dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Level ini langsung berlanjut ke titik terendah sesi pagi di Rp17.503, menandai tekanan jual yang konsisten sejak awal perdagangan.
Pelemahan rupiah bukan fenomena sendirian. Hampir seluruh mata uang regional kompak terdepresiasi terhadap greenback pada Selasa pagi. Won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen.
Hanya dolar Hong Kong yang mampu menguat 0,01 persen terhadap dolar AS. Di kawasan negara maju, euro, poundsterling, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss semuanya melemah dengan kisaran 0,10 persen hingga 0,24 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut setidaknya ada tiga faktor yang membuat rupiah terus tertekan. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian geopolitik.
"Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Sentimen ketiga datang dari pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan kabar positif bagi IHSG. Hal ini berpotensi ikut menekan rupiah karena investor asing cenderung menahan diri menunggu hasil evaluasi indeks tersebut.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Investor juga masih menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini sebagai indikator konsumsi domestik.
Level Rp17.500 menjadi resistance psikologis yang telah ditembus pagi ini. Jika tekanan berlanjut, potensi pelemahan lebih dalam masih terbuka, meski intervensi Bank Indonesia diperkirakan akan berada di sekitar level tersebut untuk menjaga stabilitas.