Rupiah di Level Rp17.500, Harga CPO Domestik Anjlok Rp175/kg di Tengah Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Permintaan Valas

Penulis: Nasrul Hidayat  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 11:03:00 WIB
Rupiah melemah ke level Rp17.500 di tengah tekanan konflik Timur Tengah dan lonjakan permintaan valas.

JAKARTA — Anjloknya harga CPO di pasar domestik terjadi di saat yang bersamaan dengan tekanan berat pada nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat.

Dua Sumber Tekanan: Perang Timur Tengah dan Musim Pembayaran Utang

Dari sisi global, meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Destry menyebut bahwa kondisi itu mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global, yang berdampak langsung pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari dalam negeri, tekanan justru berasal dari lonjakan permintaan valuta asing secara musiman. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen, serta pemenuhan dana untuk ibadah haji.

Bagaimana Pergerakan Harga CPO di Bursa Malaysia?

Penurunan harga CPO di dalam negeri sejalan dengan pelemahan di bursa acuan. Kontrak acuan CPO pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives turun 20 ringgit atau 0,44% menjadi 4.496 ringgit per ton pada awal perdagangan Selasa ini.

Analis Interband Group of Companies, Jim Teh, memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam kisaran RM4.200 hingga RM4.300. Ia menambahkan bahwa permintaan fisik diperkirakan datang dari China, Pakistan, India, dan beberapa negara di Timur Tengah yang tengah melakukan penambahan stok di tengah krisis Asia Barat.

Dampak ke Petani dan Pelaku Pasar Domestik

Penurunan harga CPO sebesar Rp175 per kilogram dalam sehari menjadi sinyal yang perlu diwaspadai oleh petani sawit dan pelaku industri hilir. Dengan harga di level Rp15.150 per kilogram, margin petani semakin tipis di tengah biaya produksi yang cenderung tetap.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah, serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi variabel utama pergerakan harga komoditas global.

Reporter: Nasrul Hidayat
Sumber: sawitindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top