BANDUNG — Harga benang jahit ukuran kecil yang sebelumnya Rp2.500 per gulung kini naik menjadi Rp3.000. Sementara benang obras melonjak dari Rp12.500 menjadi Rp15.000. Kenaikan ini, menurut Sumartini, baru kembali terjadi setelah harga bahan relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir.
“Mau enggak mau harus dibeli walaupun naik, soalnya itu kebutuhan,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (22/5/2026).
Sumartini bukan pemilik usaha, melainkan karyawan dengan sistem bagi hasil 50:50. Artinya, setiap kenaikan biaya produksi sepenuhnya ditanggungnya sendiri. Sementara pendapatan dari jasa permak—seperti potong celana Rp15 ribu per potong—tidak bisa serta-merta dinaikkan.
“Barang naik pun ya kita yang tanggung. Kadang konsumen kalau harga naik suka tidak mau, alhasil peminat daya jual belinya kurang,” katanya.
Meski tidak mengetahui persis penyebab utama kenaikan, Sumartini mendapatkan informasi dari penjual bahwa harga benang naik karena kendala pasokan barang. “Katanya sih dari barangnya, susah keluar masuknya. Saya juga kurang tahu, dari tokonya bilang barangnya memang sudah naik,” ungkapnya.
Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi faktor makro yang menekan sektor tekstil dan konfeksi di Tanah Air. Bagi pelaku usaha kecil seperti Sumartini, dampaknya langsung terasa pada harga bahan penunjang produksi harian.
Dengan pendapatan yang tipis dan pelanggan yang sensitif terhadap perubahan tarif, para penjahit permak skala mikro seperti Sumartini berharap harga bahan baku tidak terus merangkak naik. “Mudah-mudahan harga semakin stabil, dan kami disini sebagai pelaku usaha tidak terbebani, harapannya jangan naik-naik lagi terus menerus,” pungkasnya.