JAWA BARAT — Angka ekspor China pada Juni 2026 mencatatkan akselerasi signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 19 persen secara tahunan pada Mei. Dilansir dari AP pada Selasa (14/7/2026), kinerja ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur dan teknologi China terus menguat meskipun tekanan geopolitik global masih berlangsung.
Kendaraan listrik (EV) kembali menjadi primadona ekspor otomotif China. Pengiriman EV ke berbagai pasar, termasuk Eropa dan Asia Tenggara, meningkat tajam seiring dengan permintaan global yang terus bergeser ke kendaraan ramah lingkungan. Di luar sektor otomotif, lonjakan ekspor juga didorong oleh percepatan adopsi AI di berbagai negara.
Kebutuhan akan chip semikonduktor dan peralatan elektronik berdaya komputasi tinggi ikut melambungkan nilai ekspor produk teknologi China. Beijing selama ini memang gencar mendorong kemandirian produksi chip, dan data Juni 2026 menunjukkan hasil nyata dari kebijakan tersebut.
Di sisi lain, impor China pada Juni 2026 tumbuh 36 persen secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan 27 persen pada Mei. Kenaikan ini mencerminkan permintaan bahan baku dan komponen yang kuat dari pabrikan dalam negeri untuk memenuhi lonjakan pesanan ekspor.
Ekonom menilai kombinasi ekspor-impor yang sama-sama kuat menandakan rantai pasok China berjalan optimal. Tidak ada tanda-tanda perlambatan berarti, berbeda dengan kekhawatiran beberapa analis di awal tahun tentang potensi kelebihan kapasitas produksi di sektor manufaktur.
Laju pertumbuhan ekspor Juni 2026 yang mencapai 27 persen berhasil melampaui perkiraan para ekonom yang sebelumnya memproyeksikan angka di kisaran 22-24 persen. Capaian ini menjadi angin segar tidak hanya bagi perekonomian China, tetapi juga mitra dagang global yang bergantung pada pasokan produk elektronik dan komponen dari negara tersebut.
Namun, beberapa pengamat mengingatkan bahwa ketegangan dagang dengan negara-negara Barat masih menjadi risiko yang harus diwaspadai. Subsidi besar-besaran untuk industri EV China, misalnya, terus menjadi sorotan dan berpotensi memicu kebijakan tarif balasan di masa mendatang.