KARAWANG — Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 3 Karawang, Nina, memastikan pelaksanaan MPLS tahun ini mengedepankan kenyamanan siswa baru. Tidak ada lagi tradisi membawa barang-barang aneh atau perpeloncoan yang memberatkan peserta didik.
"Kami selalu memberikan pelayanan yang tidak ada masalah harus bawa ini dan harus bawa itu. Semua sudah sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) Provinsi Jawa Barat," kata Nina, Kamis (16/7/2026).
Memasuki agenda hari kedua, pihak sekolah memperkenalkan program 'Pagi Ceria' yang menggabungkan aktivitas fisik dengan pemantauan kebugaran. Sebelum bergerak, seluruh siswa menjalani pemeriksaan denyut nadi untuk memastikan kondisi tubuh mereka fit.
"Pagi ceria itu anak-anak senam pagi dulu. Setelah senam pagi kita ada kelenturan-kelenturan tubuh. Jadi anak itu ada semacam kesehatan. Senamnya pun menggunakan senam Indonesia Hebat," ujar Nina.
Skrining kesehatan dasar ini menjadi pembeda dari MPLS di tahun-tahun sebelumnya. Sekolah tidak hanya fokus pada pengenalan lingkungan fisik, tetapi juga memastikan adaptasi fisik siswa berjalan lancar.
Total peserta MPLS di SMKN 3 Karawang, Kecamatan Karawang Timur, mencapai 782 siswa kelas 10. Mereka dibagi ke dalam 14 gugus tugas yang berasal dari 17 rombongan belajar (rombel) yang tersedia.
Pembagian ini, menurut Nina, bertujuan untuk memudahkan koordinasi dan efektivitas penyampaian materi. Setiap gugus didampingi oleh kakak kelas atau guru yang sudah terlatih dalam pendekatan ramah anak.
Konsep MPLS Pancawaluya mengusung nilai-nilai humanis dan rekreatif. Pihak sekolah berharap para siswa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara menyenangkan, sehat, dan bebas dari praktik perpeloncoan.
Pendekatan ini juga selaras dengan instruksi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang melarang keras kegiatan perundungan atau kekerasan selama masa pengenalan sekolah. SMKN 3 Karawang menjadi salah satu sekolah yang mulai menerapkan juknis tersebut secara ketat.