SUKABUMI — Sejumlah petani di wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat fluktuasi harga singkong yang cenderung rendah pada Senin (4/5/2026). Harga jual singkong jenis gebang saat ini hanya berkisar Rp800 per kilogram di tingkat petani.
Kondisi tersebut jauh di bawah harga keemasan lima tahun lalu yang sempat menembus angka Rp2.000 per kilogram. Rendahnya nilai jual ini memaksa para petani dan pengolah mencari strategi baru agar komoditas ubi kayu tetap memberikan keuntungan di tengah beban biaya produksi yang tinggi.
Barto, petani asal Lengkong, mengungkapkan bahwa harga singkong jenis gebang memang menunjukkan tren positif dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, komoditas ini hanya dihargai Rp500 per kilogram oleh para pengepul di lapangan.
"Awalnya harga beli dari petani sekitar Rp500 per kilogram, sekarang dalam sebulan terakhir naik menjadi Rp800 per kilogram," kata Barto.
Menurutnya, harga saat ini masih tergolong pas-pasan. Barto mengenang masa empat hingga lima tahun lalu ketika harga singkong stabil di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.000 per kilogram. Selisih yang sangat jauh ini membuat petani kesulitan mendapatkan margin keuntungan yang layak.
Di wilayah Pabuaran, pengolah singkong bernama Irwan menyebutkan harga jenis manggu saat ini berada di level Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram. Irwan memilih untuk tetap menyerap hasil panen meski pasar sedang lesu demi menjaga kelangsungan hidup para petani lokal.
"Kami membantu petani agar hasil panennya tetap terserap dengan harga yang masih layak," ungkap Irwan.
Langkah serupa diambil oleh Andi, warga Waluran. Ia mencatat adanya disparitas harga yang cukup mencolok antara pembelian di kebun dan di lokasi pabrik. Jika petani mengantar langsung ke pabrik gaplek, harga bisa mencapai Rp700 per kilogram, namun jika dibeli langsung di lahan, harganya anjlok ke Rp400 per kilogram.
Kondisi ini mendorong pelaku usaha di Pajampangan untuk mengolah singkong menjadi gaplek. Pengolahan ini dianggap sebagai solusi paling rasional untuk memberikan nilai tambah pada komoditas yang harganya sedang tertekan.
Wilayah Pajampangan dikenal memiliki lahan kering yang sangat cocok untuk budidaya singkong manggu dan gebang. Singkong manggu biasanya diarahkan untuk pasar konsumsi langsung atau industri makanan ringan seperti keripik.
Sementara itu, jenis gebang menjadi incaran industri besar karena kandungan patinya yang tinggi sebagai bahan baku tepung tapioka. Namun, ketergantungan pada rantai distribusi dan biaya transportasi menuju pabrik pengolahan seringkali memangkas pendapatan bersih yang diterima petani di pedesaan Sukabumi.
Para petani di Lengkong, Pabuaran, hingga Waluran kini hanya bisa berharap adanya intervensi pasar atau kenaikan permintaan industri. Peningkatan harga ke level Rp1.500 per kilogram dianggap sebagai titik aman agar petani kembali bergairah menggarap lahan ubi kayu mereka.