CIREBON — Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mencatat sejarah baru dalam sektor kesehatan publik. Hingga awal Mei 2026, jumlah peserta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) resmi menyentuh angka 100 juta jiwa. Program ini dirancang untuk membangun kemandirian kesehatan masyarakat dengan fokus pada pencegahan dibandingkan pengobatan.
Layanan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia ini bertujuan memastikan akses kesehatan berkualitas tidak lagi terkendala biaya. Dengan melibatkan lebih dari 10.000 puskesmas sebagai garda terdepan, pemerintah berupaya melakukan pemerataan layanan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari, menjelaskan bahwa tren partisipasi masyarakat terus menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan. Antusiasme warga untuk memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin menjadi fondasi penting dalam transformasi sistem kesehatan nasional.
“Sepanjang tahun 2025, CKG telah melayani lebih dari 70 juta peserta. Memasuki tahun 2026 sampai dengan awal Mei 2026, jumlah tersebut telah bertambah lebih dari 30 juta jiwa. Total sudah 100 juta penduduk Indonesia mendapatkan CKG,” ujar Qodari.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program ini. Fokus utamanya adalah memastikan kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi warga, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan sulit menjangkau fasilitas kesehatan besar.
Implementasi CKG mulai memberikan dampak konkret pada perbaikan indikator kesehatan di tingkat daerah. Salah satu bukti keberhasilan terlihat dari penurunan prevalensi stunting dan percepatan penanganan tuberkulosis (TBC) melalui deteksi dini yang lebih ketat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengungkapkan bahwa pemeriksaan rutin secara masif terbukti efektif membantu pemerintah daerah melakukan intervensi cepat terhadap kelompok rentan.
“Hasil evaluasi tingkat pusat pada Triwulan I-2026, angka prevalensi stunting di NTB tercatat turun signifikan menjadi 12,88 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 17,5 persen,” tegas Hamzi.
Keberadaan lebih dari 10.000 puskesmas yang terlibat aktif dalam program CKG menjadi kunci utama percepatan deteksi dini. Melalui fasilitas ini, masyarakat dapat mengetahui potensi penyakit kronis maupun menular lebih awal, sehingga penanganan medis dapat dilakukan secara efektif sebelum kondisi memburuk.
Pendekatan preventif ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya pengobatan jangka panjang, baik bagi masyarakat maupun negara. Pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan menjangkau 100 juta warga ini merupakan langkah awal untuk mewujudkan sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan merata di masa depan.