BANDUNG — Puluhan peserta mengikuti pembukaan pelatihan digital marketing dan konten kreator yang digelar di Kota Bandung. Program ini merupakan langkah lanjutan dari pelatihan berbasis produksi yang sebelumnya banyak digelar, seperti pastry, kuliner, barber, barista, hingga rias pengantin.
Soni Daniswara menjelaskan bahwa selama ini pelatihan kerja kerap berhenti setelah peserta menghasilkan produk. Padahal, menurutnya, barang yang sudah jadi membutuhkan sistem pendukung agar bisa dijual dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Pelatihan sebelumnya lebih berbasis produksi. Tapi setelah produksi, harus ada inkubasi bisnis. Produk yang dihasilkan itu tidak bisa berjalan sendiri, harus ada sistem yang mendukung supaya bisa terjual dengan baik,” ujar Soni saat diwawancarai.
Ia merancang tiga keterampilan yang saling berkaitan. Pertama, orang produksi membuat barang. Kedua, konten kreator mempromosikan hasil produksi melalui konten digital yang menarik. Ketiga, digital marketing memperkuat kemampuan pemasaran secara daring.
“Jadi ada kesinambungan. Semua pelatihan ini saling berkaitan dan memiliki tujuan yang sama, yaitu membuka peluang usaha dan mengurangi pengangguran,” katanya.
Soni menilai pelatihan digital marketing dan konten kreator dipilih karena berbasis keterampilan murni dan tidak membutuhkan modal besar. Masyarakat hanya perlu mengasah kemampuan serta memanfaatkan platform digital yang telah tersedia.
“Konten kreator itu lebih kepada skill, digital marketing juga lebih kepada skill. Tidak harus punya modal besar. Sekarang platform digital terbuka luas, tinggal bagaimana kemampuan mengelolanya,” ungkapnya.
Ia mencontohkan berbagai platform digital yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk membuka peluang ekonomi, mulai dari media sosial hingga marketplace yang memungkinkan siapa saja menjual produk atau jasa secara mandiri.
Soni menegaskan bahwa pendekatan ini penting agar pelatihan kerja tidak berhenti hanya pada pemberian sertifikat atau seremoni belaka, melainkan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Harapannya pelatihan ini bukan sekadar menghabiskan anggaran, tapi benar-benar dikelola dengan sistem inkubasi bisnis yang baik serta memiliki kesinambungan antar keterampilan,” tegasnya.
Dengan adanya pelatihan ini, ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Bandung, dapat memiliki keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus memperkuat ekosistem UMKM berbasis digital. Program ini menjadi salah satu upaya menjawab tantangan dunia kerja yang semakin bergerak ke ranah digital.