JAWA BARAT — Musim 2025-26 akan dikenang sebagai periode pahit bagi sepak bola Italia. Tim nasional pria kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Wakil-wakil Serie A di kompetisi UEFA menuai rentetan hasil memalukan.
Inter yang setahun sebelumnya menjadi finalis Liga Champions, tersingkir di babak play-off oleh Bodø/Glimt. Juventus kebobolan tujuh gol dari Galatasaray. Napoli, juara bertahan, bahkan tak lolos dari fase grup. Namun, di tengah kelamnya musim, Inter Milan tampil sebagai bintang terang.
Tim besutan Cristian Chivu sukses menyabet scudetto dan trofi Coppa Italia. Pencapaian ini sempat dianggap mustahil saat mereka kehilangan Simone Inzaghi dan hanya memenangi satu dari tiga laga awal.
Keputusan Inter menunjuk Chivu—yang hanya punya pengalaman 13 laga sebagai manajer senior—sempat dipertanyakan. Apalagi setelah dua kekalahan dalam tiga pertandingan pertama. Namun, keraguan itu perlahan sirna.
Di bawah asuhannya, Inter bermain trengginas dan produktif. Mereka mengoleksi 89 gol sepanjang musim, jauh di atas pesaing terdekat, Como, yang hanya mencetak 65 gol. “Ini adalah musim yang aneh. Banyak tim kesulitan mencetak gol, tapi Inter membuatnya tampak mudah,” tulis Nicky Bandini dalam kolomnya di The Guardian.
Rata-rata gol Serie A musim ini hanya 2,43 per pertandingan—terendah sejak 1993-94. Dominasi Inter kian istimewa di tengah kebuntuan liga.
Di luar Inter, kisah Como menjadi salah satu cerita paling menarik musim ini. Promosi dari kasta keempat pada 2019, mereka finis di posisi yang membawa tiket ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Sepak bola atraktif racikan Cesc Fàbregas menuai pujian.
Namun, kesuksesan ini tidak lepas dari suntikan dana miliarder pemilik klub. Yang mencolok, Como nyaris tanpa pemain Italia. Hanya bek kawakan Edoardo Goldaniga yang tampil, itupun cuma 14 menit dari bangku cadangan.
Situasi ini menjadi cermin tren di Serie A. Persentase menit bermain pemain non-Italia melonjak dari 30 persen dua dekade lalu menjadi mendekati 70 persen.
Musim ini juga mencatat peningkatan jumlah pemain asal Britania Raya yang merumput di Italia. Jamie Vardy menjadi yang paling sensasional. Kedatangannya di Cremonese disambut histeris—seorang fans bahkan meminta tanda tangan di tato wajah Vardy.
Striker veteran itu merayakan gol perdananya dengan salto, dan total mengemas tujuh gol. Namun, usahanya tak cukup menyelamatkan Cremonese dari degradasi. Nasib serupa dialami Kieron Bowie. Pemain Skotlandia yang bergabung dengan Verona pada Januari ini mencetak empat gol dalam 14 laga, tapi tetap gagal menghindarkan timnya dari jurang degradasi.
Sementara itu, Lennon Miller (19 tahun) mencuri perhatian dengan 24 penampilan di Udinese. Keinan Davis akhirnya memecah kebuntuan dengan 10 gol—catatan terbaiknya di Serie A.
Di luar lapangan, musim ini juga diwarnai kontroversi. Bek Inter, Alessandro Bastoni, menjadi sorotan setelah berpura-pura dilanggar hingga membuat Pierre Kalulu diusir dalam Derby d’Italia. Ia kemudian mendapat kartu merah di laga playoff Piala Dunia, yang oleh sebagian kompatriotnya disebut sebagai karma.
Belum lagi skandal wasit yang membuat kepala regulator ofisial mengundurkan diri pada April. Sebuah musim yang, meski kelam, tetap menyisakan secercah kisah heroik dari Inter dan Chivu.