Felipe Nasr, Mantan Pembalap F1 yang Jadi Andalan Porsche Penske di IMSA

Penulis: Khoirul Anwar  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 22:41:01 WIB
Felipe Nasr menutup balapan Daytona 2025 dengan strategi penuh risiko dan pengalaman matang.

JAWA BARAT — Pencapaian tiga kemenangan beruntun di Daytona bukanlah kebetulan. Bagi Nasr, pola pertarungan di akhir lomba sudah ia perhitungkan sejak lama. Dalam dua dari tiga edisi, ia mengaku sudah tahu akan mendapat tugas menutup balapan. Namun untuk kemenangan di 2025, keputusan itu lahir dari diskusi langsung dengan rekan setimnya, Nick Tandy.

"Saya ingat jelas ketika Nick turun dari mobil. Saat itu balapan masih tersisa tiga hingga empat jam, dan kami mulai berdiskusi di pit. Travis Law (VP Kompetisi Penske) bilang, 'Kalian putuskan saja, saya oke dengan apa pun.' Nick sangat terbuka—dia menatap saya dan berkata, 'Jika kamu akan melakukan segalanya untuk memenangkan balapan ini, bersiaplah. Ini ada di pundakmu.' Saya jawab, 'Oke, saya ambil,'" ujar Nasr kepada Road & Track.

Strategi Final yang Brutal di Daytona 2025

Nasr menggambarkan pendekatannya di momen krusial itu sederhana namun penuh risiko. "Saya akan mempertaruhkan segalanya. Semua pengalaman dan kemampuan saya pakai untuk melewati lalu lintas dan bertahan sebaik mungkin," katanya.

Ia pun memuji perlawanan Jack Aitken dari Cadillac nomor 31 yang menjadi lawan terberatnya. "Dia membalap dengan sangat baik. Saya hanya memastikan tidak memberinya celah sedikit pun. Saat ini, setiap pebalap GTP adalah pebalap hebat. Anda bertarung untuk setiap inci di setiap tikungan."

Rekan Setim Baru Soroti Mentalitas Sang Juara

Julien Andlauer, rekan setim Nasr untuk musim penuh IMSA 2025, mengaku nyaris menabrak TV saat menyaksikan duel tersebut. "Saya jarang setegang itu. Cadillac sangat cepat di belakang, terus menempel, dan Felipe bertahan. 40 menit terakhir itu berat. Saya bayangkan lebih berat lagi di dalam mobil," katanya.

Andlauer, yang baru pertama kali menjalani musim penuh IMSA, mengapresiasi pengalaman Nasr. "Dia tahu cara menang di Amerika. Setiap diskusi, dia bawa keahliannya. Kami selalu berusaha mencari kompromi terbaik untuk membuat mobil cepat. Dia juga finisher ulung, dan itu yang kami butuhkan," tambahnya.

Kapten di Dalam dan Luar Mobil

Jonathan Diuguid, Presiden Team Penske yang memimpin program PPM sejak awal, menilai Nasr sebagai perekat tim. "Ia bekerja sangat keras dengan insinyur, mekanik, dan simulator. Tapi yang paling penting, ia pembangun tim terkuat yang pernah saya kenal. Lihat saja kemenangan Daytona-nya: komposisi pebalap selalu berbeda, tapi dia satu-satunya konstanta yang selalu ada di garis finis," ujar Diuguid.

Ia menambahkan bahwa Nasr menjadi kapten yang menyatukan Andlauer dan Laurin Heinrich—rekan setim ketiga di Daytona yang belum pernah ia kenal secara kompetitif. "Sejak tes November hingga balapan, dialah nahkoda yang memastikan semua orang punya apa yang mereka butuhkan," pungkas Diuguid.

Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: roadandtrack.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top