OpenClaw adalah platform yang memungkinkan pengguna menjalankan agen AI sendiri, menghubungkannya ke berbagai alat yang sudah dipakai sehari-hari, dan mengotomatiskan tugas. Sebelumnya, untuk menjalankan OpenClaw, pengguna harus membayar biaya penggunaan API dari large language model (LLM) yang di-host atau menjalankan model gratis di perangkat mereka sendiri.
Keputusan Altman membuka akses lewat akun ChatGPT langsung mengubah kalkulasi biaya itu. Seorang jurnalis teknologi yang menguji metode ini melaporkan bahwa ia menghemat sekitar 30 dolar AS (sekitar Rp 480 ribu) dalam biaya API selama seminggu pengujian. Dari sisi efisiensi, langganan ChatGPT bulanan sudah terbayar sebagai mesin penggerak agen OpenClaw-nya.
Masalah keamanan sempat menjadi pertimbangan awal. Beberapa laporan menyebut OpenClaw bisa membocorkan alamat email dan memberi peretas akses ke sistem pengguna. Karena itu, jurnalis tersebut memilih tidak menginstal OpenClaw di perangkat utama dan beralih ke virtual private server (VPS).
Ia memilih paket satu bulan dari Hostinger seharga 21,99 dolar AS (sekitar Rp 352 ribu) yang menawarkan instalasi satu klik. Proses menghubungkan ChatGPT ke OpenClaw melalui OAuth — metode masuk yang mirip saat aplikasi meminta akses ke akun Google — memerlukan pengaturan tambahan. Beberapa pengguna mengaku sudah menggunakan metode ini melalui OpenAI Codex, jalur yang sama harus ditempuh dalam pengujian ini.
Bagi yang hanya mencari chatbot sederhana, antarmuka ChatGPT sendiri lebih cepat dan bersih. OpenClaw baru terasa berguna ketika pengguna berhenti memperlakukannya seperti ChatGPT. Misalnya, agen OpenClaw bisa ditambahkan ke grup Telegram atau Discord — grup keluarga atau komunitas — untuk menjawab pertanyaan praktis seperti jadwal pertemuan.
Namun pengguna harus memastikan agen hanya diarahkan ke kanal atau ruang kerja tertentu, bukan diberi akses luas ke percakapan pribadi, file, atau alat lain. Jika tidak, ada risiko agen menampilkan informasi di tempat yang tidak semestinya.
Pengujian menunjukkan OpenClaw unggul saat diminta membangun aplikasi agregator berita. Hasilnya melampaui kemampuan ChatGPT saja. Aplikasi yang dibuat masih perlu di-host, tapi karena pengguna sudah menyewa VPS, itu bukan kendala besar.
Fitur penjadwalan tugas juga menonjol. OpenClaw menangani cron jobs dengan lancar — setiap pukul 08.00, ia mengirimkan briefing pagi personal melalui Discord yang berisi prakiraan cuaca dan rangkuman berita AI terkini. Ketika muncul kendala, pendekatan pemecahan masalah OpenClaw terasa berbeda: pengguna cukup menempelkan pesan error dan bertanya "Bisa perbaiki ini?" — dan biasanya diarahkan ke solusi yang tepat.
Manajemen file juga lebih baik. ChatGPT hanya bisa menghasilkan file untuk diunduh, sementara OpenClaw bekerja di ruang kerja persisten yang bisa membuat, memperbarui, mengatur catatan proyek, dan menjalankan perintah terhadap file tersebut. Ini membuatnya terasa seperti asisten digital sungguhan.
Satu kejutan selama pengujian adalah seberapa cepat batas pemakaian habis saat mencoba menyiapkan agen untuk alur kerja kompleks — alasan utama orang menggunakan OpenClaw. Pemakaian selama seminggu pengujian tergolong moderat, tapi tetap menghabiskan jatah yang tersedia.
Bagi pelanggan Plus yang berencana menjadikan OpenClaw bagian inti alur kerja atau menjalankan beberapa agen secara rutin, langganan ChatGPT Pro mungkin perlu dipertimbangkan. OpenClaw tetap menjadi cara menarik untuk mulai membangun agen AI sendiri — terutama bagi yang sudah berlangganan ChatGPT dan tertarik pada otomatisasi — asalkan siap dengan batasan yang ada.