BANDUNG — Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional Jawa Barat menembus angka Rp135 ribu per kilogram, naik drastis dari harga normal yang berkisar Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Pedagang di Pasar Induk Gedebage, Bandung, menyebut kenaikan sudah terjadi sejak dua pekan lalu dan terus merangkak naik setiap hari.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat mengonfirmasi bahwa produksi cabai dari sentra utama seperti Garut, Cianjur, dan Pangalengan menurun signifikan. Hujan deras yang terus mengguyur sejak akhir Januari menyebabkan buah cabai busuk sebelum dipanen. Akibatnya, pasokan ke pasar induk turun hingga 30 persen dalam dua minggu terakhir.
“Biasanya saya ambil satu kuintal sekali belanja, sekarang cuma berani setengah kuintal. Takut tidak laku karena harga jual terlalu tinggi,” ujar Siti, pedagang cabai di Pasar Kosambi, Bandung, Senin (10/3). Ia mengaku terpaksa menaikkan harga jual eceran karena harga beli dari distributor naik terus.
Ibu rumah tangga mulai mengurangi pembelian cabai. “Dulu beli setengah kilo, sekarang cuma dua ons. Diganti dengan cabe bubuk atau cabai kering yang lebih murah,” kata Yanti, warga Cimahi. Pelaku usaha warung makan dan pedagang gorengan juga mulai mengeluh. Seorang pemilik warung nasi di kawasan Dipatiukur mengaku margin keuntungannya tergerus karena tidak bisa menaikkan harga jual terlalu tinggi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menggelar operasi pasar murah di 10 titik rawan inflasi mulai pekan depan. Selain itu, tim pengendali inflasi daerah juga mulai menjalin komunikasi dengan pemasok dari Jawa Timur dan Lampung untuk menambah pasokan. “Kami targetkan harga kembali ke level Rp80 ribu dalam dua pekan ke depan,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar. Namun, pedagang ragu target itu tercapai selama musim hujan masih berlangsung.
Pengamat pertanian dari Universitas Padjadjaran memperkirakan harga baru akan turun setelah masa panen raya pada April mendatang. Ia menambahkan, gangguan cuaca yang berkepanjangan bisa memperpanjang siklus harga tinggi. Masyarakat pun disarankan beralih sementara ke komoditas pengganti seperti cabai kering atau bubuk cabai yang harganya lebih stabil.