JAWA BARAT — Musim 2025-26 Ligue 1 menyajikan banyak narasi menarik, mulai dari konsistensi bintang Portugal di PSG hingga kebangkitan klub kaya sejarah seperti Lens. Berikut rangkuman penghargaan akhir musim versi Get French Football News yang patut disimak.
Gelandang Portugal, Vitinha, dinobatkan sebagai pemain terbaik musim ini. Pemain berusia 26 tahun itu menjadi satu-satunya pilar PSG yang tampil reguler di liga dan Liga Champions, hanya absen beberapa laga pada April karena cedera tumit.
“Saya suka merasakan pertandingan mengalir melalui diri saya,” ujar Vitinha pada akhir Desember lalu. Pernyataan itu menjadi gambaran sempurna perannya sebagai pengatur ritme permainan. Luis Enrique bahkan sukses mentransformasikannya menjadi gelandang bertahan, sebuah perubahan yang terbukti paling berdampak sejak kedatangan sang pelatih.
Dengan Marquinhos yang kerap diistirahatkan di Liga Champions, Vitinha juga sering memakai ban kapten di paruh kedua musim. Ia lihai menembus lini tengah rapat lawan sekaligus menjadi playmaker dari posisi lebih dalam.
Pierre Sage membuktikan diri sebagai manajer terbaik musim ini. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, ia naik dari juru selamat sementara Lyon yang berjuang degradasi menjadi pelatih paling diminati di Prancis.
Musim ini bersama Lens, Sage membangun tim berbasis pressing tinggi dan serangan balik tajam. Hasilnya, Lens menjadi penantang terkuat PSG di liga dan mengukir sejarah dengan memenangkan Coupe de France untuk pertama kalinya dalam 120 tahun. Kepergian Sage yang dikabarkan akan melatih Crystal Palace musim depan menjadi pukulan telak bagi rencana jangka panjang Lens.
Lyon mendatangkan Afonso Moreira dari Sporting CP seharga €2 juta tanpa ekspektasi besar. Pemain sayap Portugal itu bahkan baru bermain di kasta ketiga Portugal musim sebelumnya. Namun cedera Malick Fofana membuka pintu, dan Moreira menyambutnya dengan luar biasa.
Ia mencatat 19 kontribusi gol (8 gol, 11 assist) dalam 37 penampilan. Pelatih Paulo Fonseca bahkan menjadikannya contoh bagi Endrick. “Kami mengandalkan pemain yang setahun lalu bermain di divisi tiga Portugal dan dia tampil berani. Jika Afonso punya keberanian itu, yang lain harus melakukan hal yang sama,” tegas Fonseca pada April. Etos kerja defensif dan lari tanpa henti di sayap menjadi ciri khas pemain berusia 21 tahun ini.
Kembali ke Prancis setelah empat tahun, Florian Thauvin menjadi motor serangan Lens. Pemain berusia 33 tahun itu mencetak 14 gol dan 11 assist di semua kompetisi, tiga kali dinobatkan sebagai pemain terbaik bulanan Ligue 1.
Puncaknya terjadi di Coupe de France, di mana ia selalu mencetak satu gol dan satu assist dari perempat final hingga final. “Ini salah satu kisah terindah dalam karier saya,” ujar Thauvin. Performa apiknya mengantarkan panggilan perdana ke timnas Prancis setelah enam tahun, meski akhirnya ia tidak masuk skuad Piala Dunia.
Nice menjalani musim yang mengecewakan setelah start awal yang berat sejak 6 Agustus lalu. Sementara itu, Paul Pogba menjadi simbol kegagalan. Setelah kembali ke sepak bola, gelandang Marseille itu gagal menunjukkan performa terbaik dan menjadi salah satu flop terbesar musim ini.