BOGOR — Sejumlah unsur pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bogor kompak mengenakan baju khas Sunda dalam upacara peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 di Balaikota, Rabu (4/6/2025). Penampilan seragam ini langsung menyedot perhatian warga yang hadir maupun yang menyaksikan melalui siaran langsung media sosial.
Tak hanya Wali Kota dan Wakil Wali Kota, para pejabat dari unsur TNI, Polri, Kejaksaan Negeri, hingga Pengadilan Negeri turut serta mengenakan beskap dan ikat kepala khas Sunda. Mereka duduk berjajar di panggung utama, menciptakan suasana yang berbeda dari upacara formal pada umumnya.
"Ini bukan sekadar seremoni. Ini pesan bahwa pemimpin di Bogor satu visi, satu langkah, dan satu budaya," ujar salah satu pejabat yang hadir dalam kesempatan tersebut.
Pemilihan busana adat Sunda bukan tanpa alasan. Selain untuk menghormati sejarah panjang Kota Bogor yang erat dengan Kerajaan Pajajaran, momen ini juga dimaksudkan untuk merevitalisasi kecintaan terhadap budaya lokal di kalangan aparatur sipil negara (ASN).
Upacara HJB ke-544 sendiri berlangsung khidmat dengan pengibaran bendera merah putih dan pembacaan sejarah singkat berdirinya Kota Bogor. Ribuan pegawai negeri dan pelajar turut memadati area Balaikota sejak pagi.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya pejabat Forkopimda lebih sering mengenakan pakaian dinas atau jas, tahun ini ada kesepakatan tak tertulis untuk tampil lebih dekat dengan akar budaya. Beberapa warga yang ditemui di lokasi mengaku bangga melihat para pemimpinnya mengenakan pakaian adat.
"Biasanya bapak-bapak itu kaku pakai jas. Sekarang lihat mereka pakai baju Sunda, jadi lebih santai tapi tetap berwibawa," kata Dedi, seorang warga Kecamatan Bogor Tengah yang ikut menyaksikan upacara.
Langkah Forkopimda Kota Bogor ini dinilai sebagai bentuk nyata pelestarian budaya di tingkat pemerintahan. Di tengah derasnya arus modernisasi, penggunaan busana adat dalam forum resmi diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.