BOGOR — Peningkatan interaksi antara manusia dan ular di kawasan pemukiman Kota dan Kabupaten Bogor menjadi perhatian serius para ahli. Dr. Ir. Tri Atmoko, pakar herpetologi dari IPB University, menyebut bahwa fenomena ini bukan sekadar kejadian biasa, melainkan dampak langsung dari kerusakan lingkungan. Perubahan iklim yang mengubah pola cuaca ekstrem memaksa ular mencari tempat baru yang lebih lembap dan hangat, termasuk area permukiman warga.
“Alih fungsi lahan dari hutan menjadi perumahan dan perkebunan memangkas habitat alami ular. Mereka kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, sehingga terpaksa masuk ke lingkungan manusia,” jelas Tri Atmoko dalam keterangannya, Rabu (12/3/2025).
Menurut Tri, musim hujan yang berkepanjangan menjadi pemicu utama. Saat hujan deras, liang dan sarang ular di tanah tergenang air. Ular akan merayap ke tempat yang lebih tinggi dan kering, seperti loteng rumah, celah dinding, atau tumpukan barang di gudang. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tikus di pemukiman yang menjadi mangsa utama ular.
“Rumah dengan celah di dinding, ventilasi tanpa kawat, atau halaman yang penuh tumpukan kayu dan sampah organik sangat berpotensi menjadi tempat persembunyian ular,” tambahnya.
Tri Atmoko memberikan empat langkah konkret yang bisa dilakukan warga Bogor untuk mengurangi risiko ular masuk rumah. Keempat langkah ini fokus pada pengelolaan lingkungan rumah dan pencegahan dini.
Pakar IPB University itu menekankan agar warga tidak panik dan tidak mencoba menangkap atau membunuh ular secara langsung. Langkah pertama adalah menjauhkan anak-anak dan hewan peliharaan dari lokasi ular berada. Selanjutnya, segera hubungi pemadam kebakaran (Damkar) atau komunitas pencinta reptil yang memiliki tim evakuasi ular.
“Jangan pernah memukul atau menyiram ular dengan air panas. Hal itu justru membuat ular merasa terancam dan menyerang balik. Biarkan petugas yang terlatih yang menangani,” pungkas Tri Atmoko.