JAWA BARAT — Snapops menawarkan pengalaman berbeda dari photobooth digital pada umumnya. Alat ini menggunakan film analog yang menghasilkan cetakan foto dengan karakter grain khas, mirip hasil kamera jadul. Pengunjung cukup masuk ke bilik kecil, memilih aksesori retro yang disediakan, lalu menekan tombol untuk menjepret momen.
Di tengah dominasi kamera ponsel dan filter digital, Snapops justru mengandalkan proses analog yang tidak instan. Pengunjung harus menunggu beberapa saat sebelum hasil cetakan foto keluar. Proses ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi anak muda yang ingin merasakan kembali nuansa fotografi era 1990-an.
Abda, pemilik Snapops, mengatakan bahwa ia sengaja memilih Pasar Warung Jambu sebagai lokasi karena ingin menghadirkan kontras antara kesan tradisional pasar dengan pengalaman retro yang ia tawarkan. "Konsepnya sengaja dibuat jadul, biar orang yang datang bisa nostalgia. Apalagi di pasar, suasananya sudah mendukung," ujarnya.
Untuk sekali jepret, pengunjung dikenakan biaya yang relatif terjangkau, yakni Rp 25 ribu per lembar foto. Hasil cetakan berbentuk polaroid dengan ukuran kecil, langsung bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Tidak ada editan atau filter tambahan — apa adanya, seperti fotografi analog klasik.
Snapops buka setiap hari selama jam operasional Pasar Warung Jambu. Pengunjung bisa datang langsung ke bilik yang terletak di area tengah pasar, dekat dengan deretan tenant kuliner dan fashion vintage yang juga mulai bermunculan di lokasi yang sama.
Kehadiran Snapops di Pasar Warung Jambu menjadi salah satu contoh bagaimana pasar tradisional mulai beradaptasi dengan tren kekinian tanpa kehilangan identitas lokal. Beberapa pengunjung mengaku sengaja datang dari luar Bogor hanya untuk mencoba photobooth analog ini.
Belum ada data resmi mengenai jumlah pengunjung harian, namun menurut Abda, antrean mulai terlihat pada akhir pekan. "Sabtu-Minggu ramai, kadang sampai antre 15 menit. Banyak yang bawa teman atau keluarga untuk foto bareng," tambahnya.