SUKABUMI — Kenaikan harga Pertamax yang berlaku sejak Rabu (10/6/2026) langsung berdampak pada kantong para pengemudi ojek online di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Di SPBU Jalan Siliwangi No. 30, Kecamatan Sukaraja, antrean pengemudi ojol yang mengisi Pertalite terlihat lebih panjang dibandingkan biasanya.
Randi (31), seorang pengemudi ojol yang ditemui di lokasi, mengaku terpaksa pindah ke Pertalite meskipun ia merasakan sendiri perbedaan kualitasnya. "Jadi ayeuna mah ngalih ka Pertalite. Ka Pertalite ayeuna mah," ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Rabu sore.
Menurut Randi, tarikan motor saat menggunakan Pertalite terasa jauh lebih berat dibandingkan Pertamax. "Iya beda tarikannya, Pertalite itu berat," keluhnya. Ia juga menilai konsumsi Pertalite lebih boros untuk jarak tempuh yang sama. "Rada boros kalau Pertalite mah," tambahnya.
Sebelum harga naik, Randi biasa mengisi Pertamax Rp 25 ribu dan merasa cukup untuk kebutuhan harian. Kini, dengan harga baru, nominal yang sama hanya menghasilkan volume bahan bakar yang jauh lebih sedikit, memaksanya menghitung ulang pengeluaran.
Beban pengemudi ojol tak hanya datang dari harga BBM. Seorang pengemudi lain mengungkapkan bahwa potongan pendapatan oleh aplikasi juga telah mengalami kenaikan. Sebelumnya, potongan berada di kisaran 12 persen, kini melonjak menjadi 17 persen. "Potongan udah naik kemarin juga. Naiknya, kemarin teh 12 persen sekarang 17 persen," ujarnya singkat.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM otomatis menambah biaya operasional harian, sementara pendapatan dari setoran tidak serta merta meningkat. "Naik, Kang," katanya saat ditanya dampaknya.
Pemerintah resmi menetapkan harga baru Pertamax yang melonjak signifikan dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Berikut daftar lengkap harga BBM di SPBU Pertamina yang berlaku mulai 10 Juni 2026:
Meski menyayangkan kenaikan harga yang terus terjadi, Randi mengaku tidak memiliki keluhan khusus terhadap kebijakan pemerintah. Pilihan beralih ke Pertalite dianggapnya sebagai langkah paling realistis untuk tetap bisa beroperasi setiap hari. "Oh, menyayangkan, iya," katanya singkat.
Kondisi ini menggambarkan dilema para pengemudi ojol di Sukabumi: antara mempertahankan kenyamanan berkendara dengan Pertamax atau bertahan di tengah tekanan biaya hidup dengan beralih ke bahan bakar yang lebih murah namun kurang optimal.