BANDUNG — PWM Jawa Barat tidak hanya mengejar ketertinggalan di sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi organisasi secara kolektif. Rakerwil LP UMKM mengusung tema “Berjamaah Membangun Ekonomi Umat” sebagai titik tolak perubahan pola pikir: dari sekadar membelanjakan anggaran menjadi membangun aset produktif.
Ketua PWM Jawa Barat, Prof. Dr. Ahmad Dahlan, M.Ag., menegaskan penguatan ekonomi melalui BTM bersifat mendesak dan strategis. Ia mendorong setiap PDM bertransformasi dari budaya pengeluaran menuju pengelolaan keuangan yang produktif dan berkelanjutan.
“BTM harus menjadi instrumen strategis untuk membangun kemandirian ekonomi Persyarikatan. Kita perlu mengubah cara pandang dari sekadar menghabiskan anggaran menjadi membangun aset dan investasi yang produktif,” tegas Prof. Ahmad Dahlan dalam sambutannya.
Salah satu target konkret yang dicanangkan adalah pembentukan Dana Abadi Muhammadiyah dengan nilai minimal Rp1 miliar pada setiap PDM. Menurutnya, langkah ini akan mempercepat penguatan ekonomi organisasi dan meningkatkan kebermanfaatan bagi umat.
Ketua LP UMKM PWM Jawa Barat, Ardi Fajar Gunawan, menyebut tantangan ekonomi saat ini semakin kompleks seiring ketatnya persaingan usaha dan pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Untuk menjawabnya, LP UMKM mengusung visi besar “Daerah Berdaya, Wilayah Berjaya: Berjamaah Membangun Ekonomi Umat”.
“LP UMKM Muhammadiyah Jawa Barat menetapkan satu arah besar gerakan ekonomi Muhammadiyah Jawa Barat, yaitu Daerah Berdaya, Wilayah Berjaya. Berjamaah membangun ekonomi umat berarti membangun ekosistem ekonomi Muhammadiyah Jawa Barat yang terintegrasi dan berkemajuan,” ujar Ardi.
Visi ini menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi secara kolektif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Pengembangan sektor UMKM dan BTM dinilai sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian ekonomi Persyarikatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat.
Wakil Ketua PWM Jawa Barat, H. Usep Sudrajat, S.H., M.H., menyampaikan bahwa Muhammadiyah Jawa Barat perlu segera mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi. Sektor ini dinilai sebagai pilar penting yang melengkapi keberhasilan Persyarikatan di bidang pendidikan dan kesehatan yang sudah lebih dulu maju.
Menurut Usep, upaya tersebut harus dimulai dari perubahan pola pikir dan penguatan niat kader untuk terjun langsung dalam aktivitas ekonomi produktif. Dimulai dari usaha mikro hingga pengembangan BTM di setiap daerah sebagai sarana penguatan ekonomi berjamaah.
Rangkaian Rakerwil juga diisi dengan Workshop Pengembangan BTM yang diikuti perwakilan dari 21 PDM. Forum ini menjadi ajang bertukar pengalaman dan strategi dalam mengelola lembaga keuangan mikro syariah berbasis Muhammadiyah.
Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dan semangat kolaborasi. Rakerwil dan workshop ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi Muhammadiyah di Jawa Barat, sekaligus mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi umat melalui gerakan yang terorganisasi, berjamaah, dan berkemajuan.