BOGOR — Program Petani Berdasi yang digagas di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, mulai menunjukkan hasil nyata. Sejumlah pemuda setempat yang sebelumnya enggan menggarap sawah kini justru menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan utama.
Para peserta program mengaku bisa mendapatkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dari hasil panen padi dan palawija. Angka ini jauh di atas rata-rata pendapatan buruh tani konvensional di wilayah tersebut.
“Dulu saya pikir bertani itu kotor dan tidak menghasilkan. Sekarang, dalam sebulan saya bisa dapat Rp 15 juta sampai Rp 20 juta dari hasil panen,” ujar salah satu peserta program, warga Desa Cibungbulang.
Program Petani Berdasi tidak hanya memberikan pelatihan teknis bercocok tanam, tetapi juga mengubah cara pandang anak muda terhadap profesi petani. Para peserta dibekali manajemen usaha, pemasaran digital, dan akses permodalan.
Mereka didorong untuk bekerja secara profesional, termasuk berpakaian rapi saat bertemu mitra bisnis—sebuah pendekatan yang membuat bertani terasa lebih modern dan bergengsi.
Kehadiran petani muda di Cibungbulang turut menggerakkan ekonomi lokal. Hasil panen tidak lagi dijual tengkulak dengan harga murah, melainkan dipasarkan langsung ke restoran dan pasar modern di Bogor dan Jakarta.
Beberapa peserta bahkan mulai mengembangkan lahan pertanian organik yang nilai jualnya lebih tinggi. Pemerintah desa setempat berencana memperluas program ini ke dusun-dusun lain agar lebih banyak anak muda terlibat.
Pemuda di Cibungbulang yang tertarik bisa mendaftar melalui kantor desa atau kelompok tani setempat. Program ini menyediakan lahan garapan, bibit, serta pendampingan selama satu musim tanam pertama.
Tidak ada batasan usia ketat, namun prioritas diberikan kepada lulusan SMA dan sarjana muda yang ingin memulai usaha di sektor agribisnis.