Utang Rp 11 Triliun dan Ekuitas Negatif, Kimia Farma & Indofarma Terjepit di 2025

Penulis: Luthfi Hakim  •  Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:22:31 WIB
Kimia Farma dan Indofarma catat perbaikan kinerja meski masih menghadapi defisit modal pada 2025.

JAWA BARAT — Pendarahan operasional mulai bisa ditekan, tapi luka lama masih menganga. Kimia Farma berhasil memangkas rugi bersih 63,3 persen menjadi Rp 443,36 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 1,21 triliun tahun sebelumnya. Strategi manajemen memotong beban pokok penjualan 11,91 persen dan menggeser fokus ke produk bermargin tinggi membuat laba bruto justru naik dari Rp 2,95 triliun menjadi Rp 3,06 triliun. Namun, beban pajak dan bunga yang masih tinggi membuat perusahaan masih mencatat rugi usaha operasional Rp 79,75 miliar.

Indofarma juga menunjukkan perbaikan serupa. Rugi periode berjalan berhasil ditekan 76,7 persen dari Rp 334,5 miliar menjadi Rp 77,9 miliar. Efisiensi menyeluruh dan penataan organisasi menjadi kunci. Kini INAF menyiapkan mesin pertumbuhan baru lewat penguatan pasar ekspor dan pengembangan produk herbal bernilai tinggi untuk memulihkan angka penjualan yang sempat anjlok ke Rp 151,5 miliar.

Defisit Modal dan Tumpukan Utang yang Mencekik

Masalah paling akut bersarang di sisi neraca. Indofarma mencatat ekuitas negatif Rp 706,94 miliar per akhir 2025, meski sudah membaik dari defisit sebelumnya Rp 1,14 triliun. Total liabilitas INAF masih menumpuk Rp 1,24 triliun, dengan kewajiban jangka pendek yang melampaui aset lancar hingga menyisakan defisit kas Rp 513,42 miliar. Bursa Efek Indonesia masih menggembok perdagangan saham INAF sejak 2 Juli 2024 karena risiko keuangan yang dinilai terlampau tinggi.

Sementara itu, Kimia Farma harus memikul total liabilitas Rp 11,44 triliun. Rasio utang berbunga terhadap modal melonjak dari 211,6 persen menjadi 229,18 persen. Nilai ekuitas bersih konsolidasian pun menyusut 15,79 persen, menyisakan modal bersih Rp 2,88 triliun.

Restrukturisasi dan Intervensi Danantara Jadi Penyelamat

Menghadapi tekanan likuiditas akut, manajemen Kimia Farma melobi 11 kreditur perbankan. Hasilnya, skema restrukturisasi keuangan komprehensif disepakati pada 16 Desember 2025. Langkah ini memotong total liabilitas jangka pendek dari Rp 7,91 triliun menjadi Rp 7,06 triliun. Pos utang bank jangka pendek bahkan menyusut tajam dari Rp 3,06 triliun menjadi hanya Rp 1,09 triliun.

Di balik angka-angka itu, akar penyakit bermula dari pembusukan tata kelola. Kas Indofarma jebol karena anak usahanya, PT Indofarma Global Medika, yang secara sadar menahan setoran. Kini, langkah penyelamatan kedua emiten bertumpu pada intervensi Danantara. Tahun 2025 menjadi fase hidup-mati: efisiensi dan restrukturisasi sudah berjalan, tapi jalan menuju pemulihan masih panjang.

Reporter: Luthfi Hakim
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top