BANDUNG — Kebiasaan pelanggan kereta api yang kerap terburu-buru saat turun dari gerbong atau meninggalkan stasiun kembali menimbulkan kerugian. Sepanjang semester pertama 2026, KAI Daop 2 Bandung mengamankan hampir 1.500 barang milik penumpang yang tertinggal di berbagai titik, mulai dari rak bagasi, kolong tempat duduk, hingga area ruang tunggu.
Dari total 1.479 barang temuan tersebut, rinciannya mencakup 16 item berupa makanan, 926 barang biasa seperti pakaian, helm, dan perlengkapan pribadi, serta 527 barang berharga. Kuswardojo menyebutkan, nilai barang berharga yang berhasil diamankan mencapai hampir Rp 900 juta.
Seluruh barang yang ditemukan petugas langsung didata dan disimpan melalui sistem Lost and Found yang berlaku di lingkungan KAI. Setiap barang akan diupayakan dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui verifikasi kepemilikan yang ketat.
Namun, masa penyimpanan barang temuan berbeda-beda tergantung jenisnya. Makanan basah atau mudah basi hanya disimpan 1 x 24 jam, sementara makanan kering bertahan hingga 7 x 24 jam. Barang biasa seperti pakaian memiliki masa simpan satu bulan, sedangkan barang berharga seperti laptop, ponsel, dan perhiasan bisa disimpan hingga tiga bulan.
Kuswardojo menjelaskan, barang yang melewati batas waktu penyimpanan akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Makanan akan dimusnahkan ke tempat pengelolaan sampah, barang biasa disalurkan ke lembaga sosial, dan barang berharga diserahkan kepada pihak kepolisian.
“Kami mengimbau seluruh pelanggan agar selalu melakukan pengecekan kembali barang bawaannya, sebelum turun dari kereta maupun meninggalkan area stasiun. Luangkan beberapa saat untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal di rak bagasi, di bawah tempat duduk, maupun di area sekitar tempat duduk,” ujar Kuswardojo dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Bagi pelanggan yang merasa kehilangan barang, KAI menyediakan jalur pelaporan melalui petugas stasiun terdekat atau Contact Center KAI 121. Semakin cepat laporan disampaikan, semakin besar peluang barang dapat segera ditemukan dan dikembalikan.
Petugas stasiun dan awak kereta secara rutin melakukan pemeriksaan setelah setiap perjalanan selesai untuk mengamankan barang-barang yang tertinggal. Meski sistem penanganan sudah berjalan profesional, Kuswardojo menekankan bahwa kewaspadaan pelanggan tetap menjadi faktor utama.
“Dengan meningkatnya kesadaran pelanggan, diharapkan barang tertinggal dapat dihindari, sehingga perjalanan menggunakan kereta api menjadi semakin aman, nyaman, dan menyenangkan,” pungkasnya.