BANDUNG BARAT — Ancaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti kembali menjadi perhatian serius Pemprov Jawa Barat. Menyongsong puncak musim kemarau panjang tahun ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar tidak hanya mengandalkan prosedur standar, tetapi menyiapkan strategi mitigasi baru yang menyasar langsung sumber masalah: gas metana.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional Jawa Barat, Arief Perdana, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran tahun ini secara spesifik untuk menutup dan menata kembali tumpukan sampah. Tujuannya adalah untuk menyebarkan gas metana secara merata, bukan membiarkannya terkonsentrasi di satu titik yang rawan memicu api.
"Tumpukan itu ditata supaya gas metana lebih tersebar merata. Jadi, alat berat kami tambah untuk menata timbunan dan mengurangi tumpukan," kata Arief di Bandung Barat, Rabu.
Selain penataan fisik, pengelola TPA Sarimukti juga memperkuat kesiapsiagaan dengan menyediakan hidran serta peralatan pemadam kebakaran berkapasitas besar dan ringan. Langkah ini memungkinkan petugas bertindak cepat jika titik api mulai muncul di permukaan timbunan.
"Sudah ada hidran dan alat pemadam api, baik yang berat maupun ringan, sehingga kami siap melakukan penanganan jika terjadi kebakaran," ujarnya.
DLH Jabar juga menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung Barat. Kerja sama ini mencakup simulasi penanganan kebakaran, latihan bersama, hingga penyuluhan khusus bagi pemulung dan pengemudi truk. Mereka diimbau untuk tidak menyalakan api atau merokok di sekitar area landfill.
Menurut Arief, kandungan gas metana di zona perluasan TPA Sarimukti memang belum diukur secara rinci. Namun, volume sampah organik yang membusuk dalam jumlah besar jelas berpotensi menghasilkan gas yang mudah naik ke permukaan saat suhu udara meningkat.
Kondisi ini diperparah oleh keberadaan sumber pemantik alami, seperti pecahan kaca yang memantulkan sinar matahari atau api terbuka dari aktivitas manusia. Pada Agustus 2023, kebakaran besar di zona lama TPA Sarimukti diduga dipicu oleh puntung rokok dan meluas karena gas metana yang terperangkap di dalam timbunan. Insiden itu memaksa pemerintah menetapkan status tanggap darurat hingga September 2023.
DLH Jabar berharap kombinasi antara penguatan infrastruktur mitigasi, peningkatan disiplin personel, dan kesadaran para pemulung dapat menekan risiko kebakaran selama puncak musim kemarau tahun ini. Langkah ini menjadi ujian bagi efektivitas sistem pengelolaan sampah regional di Jawa Barat.