Selain membahas weton yang dipercaya membawa keberuntungan, primbon Jawa juga mengenal weton yang disebut perlu disikapi dengan lebih hati-hati. Bukan berarti buruk, melainkan dipercaya memiliki tantangan tersendiri yang perlu disiasati pemiliknya.
Kepercayaan ini banyak beredar di kalangan masyarakat Sunda dan Jawa yang masih memegang tradisi primbon sebagai bagian dari kearifan lokal, terutama di wilayah Jawa Barat.
Para tetua biasanya menekankan bahwa weton "berat" bukan berarti nasib buruk, melainkan pengingat agar pemiliknya lebih waspada, sabar, dan banyak berikhtiar dalam menjalani hidup.
Menurut sejumlah versi primbon, weton dengan neptu ganjil rendah seperti Selasa Wage dipercaya memiliki tantangan lebih besar dalam hal kesabaran dan pengendalian emosi, sehingga pemiliknya disarankan lebih banyak introspeksi.
Weton Rabu Wage dan Minggu Pon juga kerap disebut sebagai weton yang perlu ekstra hati-hati dalam pergaulan, karena dipercaya rawan menghadapi gesekan dengan orang lain jika tidak pandai mengelola sikap.
Meski begitu, dalam primbon juga diyakini bahwa setiap weton memiliki penyeimbang, misalnya lewat sikap sabar, banyak bersedekah, atau menjaga silaturahmi, yang dipercaya dapat meredam sisi "berat" tersebut.
Kepercayaan seputar weton berat ini tetap menjadi bagian dari tradisi lisan yang hidup di masyarakat, dengan pesan moral yang sama: pentingnya menjaga sikap dan terus berbenah diri, terlepas dari weton yang dimiliki seseorang.