BANDUNG — Ratusan ribu pelajar baru tingkat SMA dan SMK di Jawa Barat memulai hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Rabu (15/7). Di tengah rangkaian kegiatan yang seragam, Sekolah Maung atau Sekolah Manusia Unggul menghadirkan program yang membedakan mereka: Unjuk Kabisa.
Program ini menjadi puncak dari rangkaian MPLS yang akan berlangsung hingga Selasa (21/7) mendatang. Konsepnya sederhana namun berdampak: setiap siswa kelas 10 diberi panggung untuk menunjukkan talenta mereka di hadapan teman-teman dan guru.
Jika MPLS di kebanyakan sekolah hanya berisi pengenalan lingkungan, tata tertib, dan materi dari pihak eksternal, Sekolah Maung menambahkan satu elemen penting: ekspresi diri. Unjuk Kabisa adalah agenda di hari terakhir MPLS yang mewajibkan setiap siswa baru untuk tampil.
“Di hari terakhir ada Unjuk Kabisa, bagaimana talenta-talenta siswa kelas 10 akan tampil di hari terakhir,” kata Waka Kesiswaan SMAN 5 Bandung, Repy Hapyan, kepada Jabar Ekspres.
Di hari pertama, kegiatan MPLS di SMAN 5 Bandung dimulai sejak pagi dengan pembukaan. Para siswa baru diperkenalkan dengan jajaran guru dan manajemen sekolah. Agenda inti di hari pertama adalah pendidikan karakter Pancawaluya.
“Tadi ada pembukaan, dilanjutkan perkenalan dengan guru, para manajemen, dan juga sekarang ini pendidikan karakter Pancawaluya,” terang Repy.
Pendidikan karakter ini menjadi fondasi sebelum siswa memasuki materi yang lebih teknis. Selama sepekan ke depan, mereka akan mendapat pengenalan kurikulum, visi misi sekolah, hingga peraturan yang berlaku.
MPLS di Sekolah Maung tidak hanya diisi oleh pihak internal. Sekolah melibatkan unsur eksternal untuk memberikan perspektif yang lebih luas kepada siswa baru. Personel TNI dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dijadwalkan menjadi pemateri.
“Ada pemateri-pemateri dari luar, dari unsur TNI-Polri, dari BNN, dan juga dari Kesbangpol,” sambung Repy.
Keterlibatan institusi ini bertujuan memberikan edukasi tentang kedisiplinan, bahaya narkoba, serta wawasan kebangsaan sejak dini. Bagi siswa baru, ini menjadi pengalaman pertama mereka berinteraksi langsung dengan aparat negara di lingkungan sekolah.
Unjuk Kabisa menjadi penutup yang dinanti-nantikan. Berbeda dengan MPLS konvensional yang sering kali berakhir dengan tes atau evaluasi, Sekolah Maung memilih mengakhiri masa pengenalan dengan perayaan bakat. Mulai dari musik, tari, seni rupa, hingga keterampilan teknis, semua bisa ditampilkan.
Program ini dirancang agar sekolah bisa langsung memetakan potensi siswa baru sejak awal. Tidak hanya nilai akademik, bakat non-akademik juga tercatat sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari Sekolah Maung.