JAWA BARAT — Investor ventura Menlo Ventures mengungkap faktor di balik pertumbuhan eksponensial Anthropic, perusahaan di balik asisten AI Claude. Dalam sebuah episode podcast Equity milik TechCrunch, mitra umum Menlo Ventures Matt Murphy menjelaskan bahwa kemenangan Anthropic bukan semata-mata karena kecanggihan model AI-nya.
"Ini pertumbuhan yang belum pernah saya lihat dalam 25 tahun berinvestasi — tidak pada gelombang internet, tidak pada mobile, tidak pada ledakan cloud pertama," ujar Murphy, yang perusahaannya memimpin pendanaan Seri D Anthropic senilai 500 juta dolar AS.
Lompatan Pendapatan yang Belum Pernah Terjadi
Data menunjukkan Anthropic melesat dari pendapatan tahunan (run rate) 9 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 47 miliar dolar AS pada Mei. Angka ini berarti perusahaan hampir melipatgandakan pendapatannya lima kali lipat dalam waktu kurang dari setengah tahun.
Murphy menyaksikan langsung transformasi ini dari dalam. Menlo Ventures menjadi salah satu investor pertama yang percaya pada Anthropic saat perusahaan masih belum menghasilkan pendapatan (pre-revenue) dan belum meluncurkan produk komersial.
Model AI Bukan Satu-satunya Senjata
Murphy menegaskan bahwa keunggulan model AI — yang sering menjadi fokus utama pemberitaan — bukanlah faktor penentu tunggal. Menurutnya, ada elemen lain yang lebih krusial dalam mendorong adopsi massal dan pertumbuhan bisnis Anthropic.
"Model yang hebat tidak pernah menjadi inti permasalahan," kata Murphy dalam wawancara dengan Julie Bort. Meski tidak merinci secara gamblang, pernyataan ini mengindikasikan bahwa strategi go-to-market, kemitraan enterprise, atau infrastruktur distribusi memainkan peran yang lebih besar dari sekadar performa teknis semata.
Dari Startup Pre-Revenue Menjadi Unicorn Teratas
Perjalanan Anthropic dari perusahaan yang belum menghasilkan pendapatan menjadi salah satu startup paling bernilai di dunia terjadi dalam waktu singkat. Menlo Ventures mengambil risiko besar dengan memimpin pendanaan Seri D ketika belum ada pihak lain yang berani masuk.
Keputusan itu kini terbukti tepat. Anthropic tidak hanya bersaing dengan OpenAI dan Google dalam perlombaan AI generatif, tetapi juga menunjukkan bahwa model bisnis yang solid bisa mengungguli sekadar kehebatan teknis.
Bagi pengguna teknologi di Indonesia yang penasaran dengan Claude, pelajaran dari pertumbuhan Anthropic sederhana: dalam industri AI, pemenang tidak selalu ditentukan oleh siapa yang punya model paling pintar, tetapi siapa yang paling pintar dalam menjual dan mengintegrasikan model tersebut ke bisnis nyata.