JAWA BARAT — Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hariyadi, menilai pengelolaan biomassa sawit masih belum dimaksimalkan. Pelepah, batang, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang, serat, hingga limbah cair pabrik (POME) selama ini kerap terbuang atau hanya dimanfaatkan secara terbatas.
"Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat spektakuler. Oleh karena itu, pengelolaan kelapa sawit harus dilakukan secara berkelanjutan," ujarnya di Jakarta, Jumat (3/7).
Limbah Sawit Bisa Jadi Pupuk, Listrik, hingga Bahan Semen
Menurut Hariyadi, biomassa sawit punya potensi besar jika diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Beberapa di antaranya adalah kompos dan pupuk organik, bahan bakar pembangkit listrik biomassa, hingga campuran semen dan material konstruksi.
Penerapan ekonomi sirkular di sektor ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka rantai nilai baru. Dengan potensi biomassa sebesar itu, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi terbarukan dan pupuk organik secara mandiri.
Dorong Hilirisasi Biomassa untuk Keberlanjutan Industri
Ekonomi sirkular menjadi jawaban atas tantangan industri sawit nasional yang kerap menghadapi tekanan dari aspek lingkungan dan sosial. Alih-alih membuang limbah, perusahaan sawit bisa mengubahnya menjadi sumber pendapatan tambahan.
Hariyadi menekankan, optimalisasi biomassa harus menjadi agenda prioritas. "Penerapan ekonomi sirkular pada biomassa sawit akan memberi nilai tambah hingga 8-9 kali lipat," tegasnya.
Dengan luasan kebun yang terus bertambah, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin pasar biomassa global. Namun, tanpa kebijakan yang mendorong hilirisasi limbah sawit, potensi ini hanya akan menjadi angka di atas kertas.