Pencarian

Bank Sentral Dunia Borong 79 Ton Emas pada Agustus, Goldman Soroti Lokasi Simpan

Selasa, 27 Oktober 2026 • 14:36:01 WIB
Bank Sentral Dunia Borong 79 Ton Emas pada Agustus, Goldman Soroti Lokasi Simpan
Goldman Sachs memperkirakan bank sentral dunia membeli 79 ton emas pada Agustus 2025.

JAWA BARAT — Goldman Sachs memperkirakan bank sentral dunia membeli 79 ton emas pada Agustus, empat kali lipat rata-rata bulanan sebelum 2022 yang hanya 17 ton. Lonjakan ini disertai pergeseran lokasi penyimpanan yang sebagian bank sentral enggan mengungkapkannya. Perubahan itu dinilai mencerminkan kekhawatiran soal keamanan cadangan dan kepercayaan antarnegara.

Dalam catatan risetnya, Goldman Sachs menyebut pembelian emas bank sentral mencapai 85 ton per bulan bila disesuaikan secara musiman selama tiga bulan terakhir. Angka ini jauh di atas pola pembelian sebelum perang Rusia-Ukraina meletus pada 2022.

Goldman menulis, bank sentral di negara-negara dengan perekonomian domestik maju sebagian besar tidak terlibat langsung dalam lonjakan pembelian emas selama empat tahun terakhir. Alasannya, mereka secara historis sudah memiliki cadangan emas dalam jumlah besar.

"Meski begitu, bagi negara-negara dengan perekonomian domestik maju, perdebatannya kini bukan lagi mengenai jumlah emas yang dimiliki, melainkan lokasi penyimpanannya. Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran yang lebih luas terkait keamanan cadangan dan kepercayaan antarnegara," kata Goldman, dikutip Fortune, Selasa (27/10).

Cina Jadi Pembeli Terbesar yang Teridentifikasi

Dari total pembelian, Goldman memperkirakan lonjakan terbesar berasal dari Cina sekitar 25 ton pada Agustus. Negeri Tirai Bambu itu memang tercatat sebagai pembeli emas terbesar yang bisa diidentifikasi, meski Goldman masih membuka kemungkinan pembelian besar berasal dari negara lain.

Goldman menilai kepemilikan emas Cina masih berada di bawah tingkat yang sesuai dengan alokasi jangka panjang yang masuk akal. Motivasi diversifikasi dengan mengurangi ketergantungan pada mata uang cadangan negara-negara G7, terutama dolar AS, tetap terbuka.

Selain menambah kepemilikan, bank sentral disebut secara diam-diam tidak mengungkapkan lokasi penyimpanan emas mereka. Goldman mencatat kepemilikan emas di Federal Reserve Bank of New York turun 40 ton pada Agustus, sementara kepemilikan di Bank of England naik 46 ton.

Belanda dan Prancis Pindahkan Cadangan Emas

Pada September, bank sentral Belanda mengonfirmasi telah memindahkan 86 ton emas dari New York dan Ottawa ke London selama enam bulan sebelumnya. De Nederlandsche Bank (DNB) menyatakan langkah itu membuat mereka lebih siap menghadapi krisis serius.

Menurut DNB, emas yang disimpan di London di Bank of England dianggap sebagai emas yang paling mudah diperdagangkan di dunia. "Hal ini menjadikan emas sebagai pilihan tercepat bagi DNB untuk digunakan dalam situasi krisis. Sebagian cadangan emas yang berada di New York dan Ottawa tidak dapat digunakan secara langsung dengan tingkat kemudahan yang sama," tulis DNB.

Sementara pada Maret lalu, Banque de France mengumumkan telah menjual 129 ton emas atau 5% dari total kepemilikan emasnya di New York, lalu membeli emas di Eropa. Bank sentral Prancis tidak menyebut faktor geopolitik, melainkan keinginan meningkatkan kemurnian kepemilikan emasnya hingga lebih dari 99,99%.

Diversifikasi Lokasi Simpan Naik Tajam

Survei Goldman menunjukkan persentase bank sentral yang menolak mengonfirmasi lokasi penyimpanan emas meningkat menjadi 12% pada 2026, dibandingkan 10% pada tahun sebelumnya.

  • Diversifikasi lokasi penyimpanan di luar negeri naik dari 2% pada 2025 menjadi 10% pada 2026.
  • Penyimpanan emas di dalam negeri meningkat 9% pada tahun ini, dari 5% pada 2025.
  • Sebanyak 18% bank sentral menolak menjawab lokasi penyimpanan emas untuk 12 bulan ke depan.
  • Sebanyak 9% menyatakan berencana melakukan diversifikasi lebih lanjut.

Goldman memperkirakan tren ini berlanjut. Bagi investor, pergeseran cadangan emas ke dalam negeri dan ke pusat perdagangan seperti London menjadi sinyal bahwa risiko geopolitik makin diperhitungkan dalam pengelolaan cadangan devisa.

Langkah bank sentral memindahkan emas juga berimplikasi pada likuiditas pasar logam mulia. Emas yang berpindah ke yurisdiksi dengan akses dagang lebih mudah berpotensi lebih cepat masuk pasar saat tekanan krisis muncul, berbeda dengan cadangan yang terkunci di lokasi tertentu.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks