BOGOR — Rombongan dari Keraton Sumedang Larang membawa mahkota secara langsung, dijaga ketat oleh aparat Brimob sepanjang perjalanan. Penyambutan dilakukan di Gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah Kota Bogor, menandai pentingnya momentum ini bagi pemerintah daerah.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake terbuat dari emas murni 18,8 karat dengan bobot kurang lebih 8 kilogram. Artefak ini dulunya menjadi mahkota penguasa Kerajaan Pajajaran dan disimpan di Keraton Sumedang Larang sejak masa transisi kekuasaan berabad-abad lalu.
"Yang ditunggu-tunggu sudah sekian lama, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, sebuah simbol Kerajaan Pajajaran yang dulu pernah dijadikan mahkota semua Raja Sunda Pajajaran," ujar Wali Kota Dedie A. Rachim saat penyambutan.
Menurut Dedie, kedatangan mahkota ke Bogor bukan kebetulan. Kota Bogor memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Pajajaran dan Keraton Sumedang Larang. Hubungan historis tersebut berkaitan dengan perpindahan pusat Kerajaan Pajajaran ke Sumedang pada masa lampau.
"Nah ini menjadi sebuah momentum yang cukup langka karena belum semua wilayah Jawa Barat disinggahi. Tetapi Bogor mendapatkan sebuah kesempatan yang istimewa karena memang kedekatan antara Bogor dengan Sumedang," ungkap Dedie.
Perpindahan pusat kekuasaan dari Pajajaran ke Sumedang membawa dampak pada pengelolaan artefak bersejarah. Saat ini, sejumlah prasasti dan benda-benda bersejarah milik Kerajaan Pajajaran disimpan di Keraton Sumedang Larang sebagai bagian dari koleksi budaya Sunda.
Kehadiran Mahkota Binokasih di Bogor menjadi pengingat akan sejarah dan budaya Sunda yang perlu terus dilestarikan bagi generasi mendatang. Acara kirab budaya pada Jumat malam, 8 Mei 2026, akan membawa mahkota berkeliling Kota Bogor sebagai bagian dari perayaan Milangkala Tatar Sunda yang lebih luas.