DEPOK — Bagi anak-anak di sekitar Masjid Jami Atta’Awun, momen pemotongan hewan kurban bukan sekadar ritual tahunan. Mereka sengaja datang sejak pagi, duduk di tepi terpal yang dibentangkan panitia, untuk menyaksikan proses penyembelihan dari jarak aman.
“Seru, lihat sapi besar dipotong. Tadi saya lihat darahnya,” ujar Raka (9), warga Kelurahan Sukmajaya, ditemui di lokasi, Senin (17/6). Ia datang bersama tiga temannya yang juga antusias mengikuti proses dari awal hingga pembagian daging.
Pemandangan anak-anak yang duduk berjejer di pinggir area pemotongan menjadi pemandangan khas setiap Idul Adha di masjid ini. Beberapa di antaranya membawa ponsel untuk merekam proses penyembelihan, sementara yang lain bertanya kepada panitia tentang teknik memotong hewan yang benar.
“Mereka ingin tahu bagaimana hewan disembelih, kenapa harus menghadap kiblat, dan bagaimana dagingnya dibagi. Ini edukasi langsung bagi mereka,” kata Ketua Panitia Kurban Masjid Jami Atta’Awun, Ahmad Fauzi.
Panitia memastikan seluruh hewan kurban disembelih sesuai syariat Islam. Tim penyembelih yang terdiri dari enam orang bergantian menangani sapi dan kambing yang telah diperiksa kesehatannya sehari sebelumnya.
“Kami pastikan hewan dalam kondisi sehat, tidak cacat, dan cukup umur. Proses penyembelihan dilakukan dengan pisau tajam dan sekali potong,” jelas Fauzi.
Setelah disembelih, hewan dikuliti dan dipotong menjadi bagian-bagian kecil di atas terpal yang telah disiapkan. Panitia mencatat setiap potongan daging untuk memastikan pembagian merata kepada warga yang berhak.
Daging kurban tahun ini dibagikan kepada warga di tiga RW sekitar masjid. Panitia mencatat ada sekitar 300 kepala keluarga yang menerima jatah daging sapi dan kambing.
“Kami utamakan warga kurang mampu dan mereka yang tercatat sebagai mustahik. Setiap KK mendapat sekitar satu kilogram daging sapi atau setara,” tambah Fauzi.
Proses pembagian dilakukan setelah salat Id berlangsung, dengan sistem kupon yang telah didistribusikan sebelumnya. Warga datang bergiliran untuk mengambil daging di posko yang telah ditentukan.
Selain pemotongan, panitia juga menyelenggarakan sesi tanya jawab singkat tentang tata cara kurban setelah proses selesai. Anak-anak yang hadir diberi kesempatan bertanya langsung kepada tim penyembelih.
“Kami ingin mereka tidak hanya melihat, tapi juga memahami makna kurban. Ini bagian dari pendidikan karakter sejak dini,” ujar Fauzi.
Suasana semarak di Masjid Jami Atta’Awun menjadi gambaran tradisi kurban yang terus hidup di tengah masyarakat perkotaan. Antusiasme anak-anak menyaksikan prosesi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan masih diwariskan secara langsung dari generasi ke generasi.