CIREBON — Fenomena antrean panjang sebelum warung buka bukan hal asing di sejumlah tempat makan nasi gurih di Cirebon. Lima warung tercatat menjadi favorit warga karena porsi besar, lauk beragam, dan harga yang ramah di kantong.
Nasi gurih khas Cirebon berbeda dengan nasi uduk khas Betawi atau nasi liwet Solo. Aromanya lebih kuat karena menggunakan santan kental dan rempah seperti serai serta daun salam yang dimasak perlahan.
Lauk pendampingnya juga variatif, mulai dari ayam goreng, telur balado, tahu tempe bacem, hingga sambal goreng krecek. Semua ditempatkan dalam satu piring dengan harga sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.
Berdasarkan catatan para penikmat kuliner pagi di Cirebon, berikut lima warung yang kerap kehabisan stok sebelum pukul 10.00 WIB:
Di setiap warung, pembeli biasanya sudah datang sejak pukul 04.30 WIB. Banyak yang membawa rantang atau wadah sendiri untuk dibawa pulang. Suasana pagi di lokasi-lokasi ini selalu ramai dengan suara penjual menyendok nasi dan pembeli yang memilih lauk.
Seorang pembeli bernama Andi, warga Kecamatan Kejaksan, mengaku rela bangun lebih awal setiap akhir pekan demi seporsi nasi gurih. “Kalau datang jam enam, kadang lauk favorit sudah habis. Jadi harus subuh-subuh,” ujarnya.
Di tengah kenaikan harga bahan pokok, kelima warung ini masih mempertahankan harga jual di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000. Sebagian besar penjual memilih mengurangi margin keuntungan ketimbang menaikkan harga.
Hal ini membuat nasi gurih tetap menjadi pilihan utama sarapan bagi pekerja dan pelajar di Cirebon. Tidak heran, setiap pagi warung-warung ini selalu penuh, dan sebelum siang, nasi gurih sudah habis terjual.