Permintaan Timah Bisa Meroket Dua Kali Lipat, PT Timah: Solar Panel dan Data Center Jadi Motor Baru

Penulis: Jefri Siahaan  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 14:16:01 WIB
Permintaan timah diperkirakan naik dua kali lipat seiring berkembangnya industri solar panel dan data center.

JAWA BARAT — Vice President Director PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, mengungkapkan bahwa selama ini permintaan timah cenderung stagnan karena hampir seluruhnya terserap industri manufaktur, terutama elektronik. Berbeda dengan emas yang juga berfungsi sebagai instrumen investasi, timah nyaris tidak pernah disimpan sebagai cadangan.

“Timah itu kebutuhan dunia relatif segitu-segitu saja. Beda dengan emas. Emas kan banyak dikoleksi atau disimpan. Kalau timah, kebutuhannya memang untuk industri, khususnya elektronik,” ujar Harry kepada awak media di Jakarta, Kamis (11/6).

Solar Panel dan Data Center Jadi Sumber Permintaan Baru

Namun, lanskap konsumsi timah global disebut akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Harry mengidentifikasi dua sektor yang bakal menjadi motor pertumbuhan: pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pusat data atau data center.

“Ke depannya kita punya demand baru sebenarnya di industri timah ini, yaitu di solar panel dan data center. Itu yang akan menjadi driver pertumbuhan kebutuhan timah,” imbuhnya.

Timah digunakan dalam proses soldering atau penyolderan pada panel surya dan komponen elektronik di data center. Semakin masif pembangunan infrastruktur digital dan transisi energi di berbagai negara, kebutuhan logam ini diprediksi melesat.

Konsumsi Bisa Tembus 760 Ribu Ton, Pasokan Terbatas

Saat ini, konsumsi timah global tercatat sekitar 380 ribu ton per tahun. Harry memperkirakan angka tersebut bisa berlipat ganda seiring dengan percepatan pembangunan PLTS dan data center secara global.

“Kalau sekarang kurang lebih sekitar 380 ribu ton per tahun. Tahun-tahun mendatang mungkin bisa dua kali lipat dari angka itu,” ungkapnya.

Di sisi lain, lonjakan permintaan ini berhadapan dengan realitas pahit: pasokan timah dunia tidak bertambah signifikan. Harry menilai sumber daya timah global cenderung tetap, sehingga berpotensi menciptakan ketatnya pasokan di masa depan.

“Resources-nya ternyata juga segitu-segitu saja. Jadi ketika demand naik, pasokannya tidak serta-merta bertambah banyak,” ujarnya.

Sumber Daya Timah Indonesia Terbatas, Terkonsentrasi di Dua Wilayah

Indonesia masih menjadi salah satu pemain utama industri timah dunia. Namun, sebaran sumber daya nasional tergolong terbatas dan tidak merata.

“Kalau di Indonesia, yang memiliki timah ya Bangka Belitung, kemudian sedikit di Kundur, Kepulauan Riau. Jadi sumber dayanya memang tidak tersebar luas,” kata Harry.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi PT Timah dan industri pertimahan nasional untuk mengoptimalkan produksi di tengah lonjakan permintaan yang diproyeksikan terjadi. Dengan cadangan yang terpusat, efisiensi penambangan dan tata kelola sumber daya menjadi kunci agar Indonesia tak kehilangan momentum di era transisi energi dan digitalisasi global.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top