CIBINONG — Dua proyek transportasi ikonik di Kabupaten Bogor yang sudah lama digadang-gadang, kereta api Jasinga dan kereta gantung Puncak, akhirnya kembali dihidupkan. Bupati Bogor membeberkan bahwa pihaknya tengah mematangkan sejumlah rencana pengembangan transportasi, termasuk dua proyek tersebut, dengan menggandeng KAI dan investor asing.
Proyek kereta api Jasinga sendiri bukan wacana baru. Jalur ini direncanakan menghubungkan kawasan Bogor Barat dengan pusat kota, sebuah rute yang selama ini hanya dilayani angkutan darat konvensional yang kerap macet. Sementara itu, kereta gantung Puncak digadang-gadang menjadi solusi kemacetan parah di jalur wisata Puncak yang setiap akhir pekan tak pernah sepi.
Keputusan untuk mengkaji ulang dua proyek ini muncul di tengah desakan warga dan pelaku wisata yang mengeluhkan aksesibilitas. Jalur Puncak, misalnya, sudah bertahun-tahun menjadi "langganan" macet parah, terutama saat libur panjang. Bupati Bogor menilai kereta gantung bisa menjadi moda transportasi alternatif yang tidak hanya mengurai kemacetan, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata baru.
Untuk kereta api Jasinga, kajian difokuskan pada jalur yang sudah ada namun tidak aktif. Pemkab Bogor ingin mengaktifkan kembali rute ini agar mobilitas warga di wilayah barat lebih efisien. "Kami tidak mau asal bangun. Semua harus melalui kajian teknis dan lingkungan yang matang," ujar Bupati Bogor dalam sebuah pernyataan.
Langkah pertama yang dilakukan Pemkab Bogor adalah menggandeng KAI untuk kereta api Jasinga. KAI akan dilibatkan dalam studi kelayakan, termasuk analisis jalur, potensi penumpang, dan biaya operasional. Sementara untuk kereta gantung Puncak, Pemkab Bogor menjajaki kerja sama dengan investor asing yang sudah berpengalaman membangun gondola di daerah pegunungan.
Investor asing yang dimaksud belum disebutkan secara detail, namun Bupati memastikan mereka memiliki rekam jejak di proyek serupa. "Kami tidak mau main-main. Investor harus punya portofolio yang jelas," tegasnya.
Proses kajian ini diperkirakan memakan waktu beberapa bulan hingga satu tahun. Tahap awal akan fokus pada studi kelayakan teknis dan lingkungan, termasuk analisis dampak lalu lintas dan sosial bagi warga sekitar. Setelah itu, baru masuk ke tahap perizinan dan pembebasan lahan jika proyek dinyatakan layak.
Bupati Bogor juga menekankan bahwa kedua proyek ini tidak akan mengganggu aktivitas warga. "Kami akan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap. Tidak ada proyek yang dipaksakan," ujarnya.
Jika terealisasi, kereta api Jasinga akan memangkas waktu tempuh dari Bogor Barat ke pusat kota yang biasanya memakan waktu hingga dua jam. Sementara kereta gantung Puncak diharapkan menjadi daya tarik wisata baru sekaligus mengurangi volume kendaraan di jalur Puncak.
Namun, warga di sekitar lokasi proyek potensial masih menunggu kepastian. Beberapa kelompok masyarakat di kawasan Puncak sempat menyuarakan kekhawatiran soal dampak lingkungan dan estetika. Pemkab Bogor berjanji akan mengakomodasi masukan tersebut dalam kajian.
Proyek ini menjadi salah satu prioritas Pemkab Bogor dalam lima tahun ke depan. Bupati menargetkan setidaknya satu dari dua proyek ini bisa mulai konstruksi pada 2027, jika semua kajian rampung dan pendanaan aman.