Orang Sunda punya filosofi kuat dalam urusan makanan. Bukan sekadar kenyang, setiap suapan dianggap sebagai sumber energi dan kebersamaan. Di warung-warung pinggir jalan, di dapur rumah makan Padang yang sudah beradaptasi, hingga di meja makan keluarga—cita rasa Jawa Barat punya pijakan yang kokoh.
Dari tujuh kuliner yang akan kita bedah, beberapa mungkin sudah sering kamu dengar. Tapi ada juga yang baru populer dalam satu dekade terakhir. Semuanya punya cerita dan cara menikmati yang khas.
1. Oncom: Fermentasi yang Sering Diremehkan
Oncom adalah produk fermentasi kapang dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah. Warnanya oranye kemerahan karena pertumbuhan jamur Neurospora sitophila. Teksturnya lebih padat dibanding tempe, dengan aroma yang khas—tajam, sedikit amis, tapi memikat.
Orang Sunda mengolah oncom dengan dua cara utama: digoreng tepung sebagai camilan renyah, atau ditumis pedas sebagai lauk. Oncom goreng tepung paling enak dimakan hangat dengan sambal terasi dan lalapan mentah. Rasanya gurih, sedikit pahit di ujung lidah, cocok untuk kamu yang bosan dengan tempe goreng biasa.
2. Karedok: Salad Mentah dengan Rasa Kompleks
Karedok sering disamakan dengan gado-gado, padahal berbeda drastis. Gado-gado menggunakan sayuran rebus, sementara karedok memakai sayuran mentah: kol, tauge, kacang panjang, mentimun, dan kemangi. Semua diiris tipis, lalu dicampur sambal kacang yang lebih kental dan lebih pedas.
Kuncinya ada di kencur. Sambal kacang karedok selalu mengandung kencur parut, yang memberi sensasi dingin dan hangat sekaligus di tenggorokan. Tekstur renyah sayuran mentah berpadu dengan saus kacang yang kasar—ini pengalaman yang tidak bisa didapat dari salad Barat mana pun.
3. Batagor: Ikan Tenggiri yang Jadi Primadona
Batagor—singkatan dari bakso tahu goreng—adalah jajanan yang sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Tapi versi asli dari Bandung punya standar rasa yang berbeda. Isiannya dominan ikan tenggiri, bukan ayam atau campuran daging sapi. Tahu putih dibelah, diisi adonan ikan, lalu digoreng hingga kulitnya renyah.
Yang membedakan batagor Bandung dengan versi daerah lain adalah saus kacangnya. Saus ini dibuat dari kacang tanah goreng yang dihaluskan dengan cabai merah, bawang putih, dan sedikit cuka. Rasanya manis, pedas, dan asam dalam satu suapan. Batagor paling enak dimakan saat masih hangat, dengan cocolan saus kacang dan kecap manis.
4. Surabi: Jajanan Pasar yang Tak Lekang Zaman
Surabi adalah kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan, dimasak di atas tungku tanah liat dengan api kayu bakar. Teksturnya lembut di bagian tengah, agak garing di pinggir. Aroma asap dari tungku memberi rasa smoky yang tidak bisa ditiru kompor gas.
Di Jawa Barat, surabi hadir dalam dua varian utama: surabi manis dan surabi asin. Surabi manis disiram kuah gula merah kental dan ditabur kelapa parut. Surabi asin diberi taburan oncom pedas atau sosis. Keduanya sama-sama legit, tapi sensasi asin-pedas dari surabi oncom lebih menantang lidah.
5. Cireng: Camilan Kenyal yang Gampang Kecanduan
Cireng—aci digoreng—adalah jajanan sederhana dari tepung kanji (aci) yang dibentuk pipih lalu digoreng. Teksturnya kenyal, hampir elastis, dengan bagian luar yang renyah. Dulu cireng hanya ditemukan di sekolah-sekolah dan pasar tradisional, tapi sekarang sudah naik kelas jadi camilan kekinian.
Rahasia cireng enak ada di bumbu taburnya. Bawang putih bubuk, garam, dan kaldu bubuk dicampur rata, lalu ditaburkan selagi cireng masih panas. Ada juga cireng isi yang di dalamnya diisi sambal oncom, daging cincang, atau keju. Tapi versi original tanpa isi tetap juara—lebih sederhana, lebih adiktif.
6. Nasi Tutug Oncom: Satu Piring, Banyak Cerita
Nasi tutug oncom (NTO) berasal dari Tasikmalaya. Nasi hangat dicampur dengan oncom yang sudah dihaluskan dan ditumis bumbu pedas. Proses pencampurannya dilakukan di atas tampah atau wadah kayu, dengan tangan atau sendok kayu, sampai butiran nasi terlapisi oncom secara merata.
NTO biasanya disajikan dengan lauk pelengkap: ayam goreng, ikan asin, atau tahu tempe bacem. Yang paling penting adalah sambal dan lalapan mentah. Nasi yang gurih dan sedikit pahit dari oncom berpadu sempurna dengan pedasnya sambal dan segarnya lalapan. Ini menu sarapan favorit warga Priangan timur.
7. Es Goyobod: Penutup yang Menyegarkan
Es goyobod adalah minuman penutup yang berasal dari Garut. Bahan utamanya adalah goyobod—sejenis jeli kenyal dari tepung hunkwe atau sagu, berbentuk potongan kecil. Disajikan dengan es serut, santan, gula merah cair, dan potongan alpukat atau nangka.
Yang membedakan es goyobod dari es campur biasa adalah tekstur goyobod yang licin dan kenyal, serta kuah santan yang gurih. Rasa manis dari gula merah dan segar dari es serut membuat minuman ini cocok untuk cuaca panas di dataran tinggi Jawa Barat. Kamu bisa menemukannya di warung es pinggir jalan, terutama di daerah Garut dan sekitarnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa perbedaan oncom dan tempe?
Oncom dibuat dari ampas tahu atau bungkil kacang yang difermentasi jamur Neurospora, menghasilkan warna oranye dan aroma tajam. Tempe dari kedelai fermentasi jamur Rhizopus, berwarna putih dan rasa lebih netral.
2. Batagor asli Bandung pakai ikan apa?
Ikan tenggiri adalah pilihan utama karena teksturnya padat dan tidak terlalu amis. Beberapa penjual juga mencampur dengan ikan gabus atau tongkol.
3. Surabi bisa ditemukan di mana saja?
Di pasar tradisional dan pedagang kaki lima di kota-kota Jawa Barat. Surabi asli menggunakan tungku tanah liat, bukan wajan teflon.
4. Apakah karedok bisa dibuat tanpa kencur?
Bisa, tapi rasanya akan kehilangan ciri khas. Kencur memberi aroma dan sensasi hangat yang tidak bisa diganti bahan lain.
5. Nasi tutug oncom cocok untuk sarapan?
Sangat cocok. Di Tasikmalaya dan Garut, NTO adalah menu sarapan umum karena mengenyangkan dan praktis.
Setiap kuliner di atas punya tempatnya sendiri di hati masyarakat Jawa Barat. Oncom dan karedok adalah warisan leluhur yang terus bertahan, sementara batagor dan cireng berkembang mengikuti selera zaman. Kalau kamu berkunjung ke Bandung, Tasikmalaya, atau Garut, cobalah satu per satu. Rasakan sendiri kenapa makanan sederhana ini bisa bertahan puluhan tahun tanpa kehilangan penggemar.