MAJALENGKA — Kecamatan Jatitujuh menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kematian akibat kecelakaan air tertinggi di Kabupaten Majalengka. Data BPBD setempat mencatat dua kasus orang tenggelam hingga Juli 2026, dengan satu kejadian terakhir terjadi sekitar sebulan lalu di kecamatan yang sama.
Dua Kasus Tenggelam, Sungai Cimanuk Berbahaya
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Majalengka, Reza Permana, menyebut Sungai Cimanuk memiliki catatan panjang kecelakaan air yang menimbulkan korban jiwa. “Secara historis Sungai Cimanuk memiliki banyak kejadian bencana maupun kecelakaan air yang menyebabkan korban jiwa,” katanya.
Ia menambahkan, karakter sungai itu tampak tenang di permukaan namun memiliki arus bawah yang kuat. Kondisi ini kerap menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan korban tenggelam.
Pelatihan Penyelamatan: Teknik Dasar hingga Simulasi
Pelatihan yang diikuti oleh Komunitas Hujan Keruh difokuskan pada pengenalan peralatan penyelamatan, teknik dasar evakuasi korban tenggelam, dan simulasi penyelamatan di sungai. Reza mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penyelamatan langsung tanpa kompetensi.
“Apabila terjadi kecelakaan air, masyarakat sebaiknya segera melaporkan kepada petugas. Penyelamatan di air sangat berbahaya apabila dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan dan peralatan yang memadai,” ujarnya.
Persiapan Pengamanan Festival Pecunan 2026
Pengurus Harian Komunitas Hujan Keruh, Saripudin, mengatakan pelatihan ini merupakan langkah preventif untuk mengurangi risiko selama Festival Pecunan 2026 yang akan diadakan di sepanjang aliran Sungai Cipelang. “Pelatihan ini merupakan langkah preventif untuk mengurangi berbagai risiko yang mungkin terjadi selama pelaksanaan Festival Pecunan,” ujar Saripudin.
Melalui kegiatan tersebut, BPBD berharap semakin banyak relawan dan masyarakat yang memahami prosedur penanganan keadaan darurat. Kesadaran untuk mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di sekitar sungai pun diharapkan meningkat.