Pencarian

Produksi Padi Jabar Naik 18,54 Persen Jadi 10,23 Juta Ton di 2025, Meski Produktivitas Terkikis Cuaca Ekstrem

Selasa, 28 Juli 2026 • 01:19:31 WIB
Produksi Padi Jabar Naik 18,54 Persen Jadi 10,23 Juta Ton di 2025, Meski Produktivitas Terkikis Cuaca Ekstrem
Produksi padi Jawa Barat mencapai 10,23 juta ton pada 2025, naik 18,54 persen dari tahun sebelumnya.

BANDUNG — Produksi padi Jawa Barat tetap menunjukkan tren positif meskipun petani menghadapi tekanan cuaca ekstrem sepanjang tahun lalu. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jabar melaporkan total produksi gabah mencapai 10,23 juta ton pada 2025, tumbuh signifikan dari 8,63 juta ton di 2024.

Kenaikan ini utamanya didorong oleh perluasan luas tanam menjadi 2.106.724 hektare, naik hampir 10 persen dari 1.918.137 hektare pada tahun sebelumnya. "Ketersediaan air yang cukup sepanjang tahun menjadi faktor utama," ujar Sekretaris DTPH Jabar Yanti Hidayatun Zakiah di Bandung, Senin.

Produktivitas Terkikis Akibat Kemarau Basah

Di balik kenaikan produksi, produktivitas lahan sawah justru menurun tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas padi Jabar turun 0,21 kuintal per hektare menjadi 58,26 kuintal per hektare pada 2025, dibandingkan 58,47 kuintal per hektare di 2024.

Yanti menjelaskan, anomali cuaca kemarau basah menyebabkan minimnya penyinaran matahari sepanjang tahun. "Penyinaran matahari yang berkurang sedikit mengganggu proses pengisian bulir. Ditambah lagi dampak perubahan iklim memicu serangan hama seperti wereng dan penyakit tanaman," katanya.

Kelembapan tinggi akibat curah hujan yang terus-menerus turun pada fase matang padi memicu serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama penyakit blas dan wereng batang cokelat. Banjir dan longsor di beberapa wilayah juga turut menekan produktivitas.

Kolaborasi dan Pompanisasi Jadi Penyelamat

DTPH Jabar mengakui bahwa kenaikan produksi tidak lepas dari koordinasi intensif dengan BPS hingga tingkat kabupaten/kota. Penyesuaian titik kerangka sampel area (KSA) dilakukan menyusul penyusutan luas lahan baku sawah dari 916.798 hektare menjadi 900.722 hektare.

"Gerakan dan kolaborasi serta koordinasi yang intensif antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan kota dalam rangka akselerasi swasembada pangan sangat menunjang. Kami memastikan ketersediaan benih, pupuk, dan berbagai insentif seperti pompanisasi untuk kesuksesan program," ujar Yanti.

Antisipasi Kemarau 2026: Pupuk Organik Jadi Andalan

Menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi masih dibayangi anomali iklim, Pemprov Jabar mengintensifkan edukasi penggunaan pupuk organik dan hayati cair. Langkah ini sesuai amanat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pertanian Organik.

"Penggunaan pupuk organik sangat krusial menjaga kandungan bahan organik tanah. Saat kemarau, tanah yang diolah dengan pupuk organik tidak akan mengeras yang kalau dilihat secara langsung itu pecah-pecah, sehingga kelembapan mikroba terjaga dan sawah masih bisa ditanami," kata Yanti menambahkan.

Dengan strategi ini, Pemprov Jabar optimistis tren produksi padi tetap terjaga meskipun tekanan iklim diprediksi masih berlanjut. Data BPS akan terus dipantau untuk menyesuaikan kebijakan di lapangan.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jabar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks