Pencarian

Silih Asah, Asih, Asuh di Era Digital: Falsafah Sunda untuk Uji Kualitas Persahabatan di Jawa Barat

Selasa, 28 Juli 2026 • 11:04:31 WIB
Silih Asah, Asih, Asuh di Era Digital: Falsafah Sunda untuk Uji Kualitas Persahabatan di Jawa Barat
Warga berdiskusi sambil memegang gawai di sebuah taman kota di Bandung, Jawa Barat.

BANDUNG — Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Hari Persahabatan Internasional pada 2011 sebagai pengingat bahwa persahabatan antarindividu, masyarakat, hingga negara dapat membangun jembatan perdamaian. Di Tatar Sunda, gagasan serupa telah lama hidup dalam ungkapan silih asah, silih asih, silih asuh.

Tiga Ukuran untuk Hubungan yang Sehat

Kata silih berarti saling. Inilah inti falsafah tersebut. Hubungan bukan satu pihak menggurui sementara pihak lain menurut, bukan pula satu orang memberi sedangkan lainnya hanya menerima. Ada timbal balik dan kesediaan bertumbuh bersama.

Silih asah berarti saling mencerdaskan dan memperluas wawasan. Teman bukan hanya orang yang selalu membenarkan. Kadang, sahabat justru yang cukup berani mengatakan keputusan kita keliru—tanpa mempermalukan. Dalam persahabatan, perbedaan tidak harus berakhir dengan blokir nomor telepon. Jika setiap kritik dianggap serangan, yang tumbuh bukan persahabatan, melainkan perkumpulan penggemar pribadi.

Silih asih mengandung kasih sayang yang tulus. Kasih tidak hanya kata-kata lembut, tetapi juga penghormatan terhadap martabat, kelemahan, dan batas pribadi orang lain. Mengasihi berarti tidak menggunakan rahasia teman sebagai senjata ketika hubungan memburuk. Di dunia digital, hal ini termasuk tidak menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi demi memenangkan pertengkaran.

Adapun silih asuh berarti saling membimbing dan mengayomi. Dalam hubungan yang sehat, pengasuhan berlangsung timbal balik. Hari ini seseorang menjadi tempat bersandar, pada waktu lain dialah yang membutuhkan sandaran.

Penelitian Unpad: Tiga Nilai dalam Satu Kesatuan

Penelitian yang diterbitkan Universitas Padjadjaran memandang tiga nilai tersebut sebagai satu kesatuan dalam membangun kualitas kemanusiaan. Jurnal Sosiohumaniora Unpad menyebut silih asih berkaitan dengan keberadaan manusia dan kasih, silih asah berhubungan dengan pengetahuan, sementara silih asuh menyangkut tindakan nyata dalam menjaga kehidupan bersama.

Falsafah ini membuat persahabatan lebih dalam daripada kecocokan selera. Dua orang mungkin tidak menyukai musik, makanan, atau pilihan politik yang sama. Namun, hubungan dapat bertahan apabila keduanya saling memperkaya pikiran, menjaga perasaan, dan hadir ketika salah satu mengalami kesulitan.

Relevan di Tengah Ramainya Kesepian

Hari Persahabatan terasa semakin penting ketika manusia mempunyai lebih banyak saluran komunikasi, namun kemudahan terhubung tidak otomatis membuat seseorang merasa ditemani. Laporan Komisi Koneksi Sosial WHO menunjukkan satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. WHO juga mengaitkan kesepian dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahun.

Kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki teman. Seseorang dapat aktif dalam belasan grup percakapan dan memiliki ribuan pengikut, tetapi tetap merasa tidak mempunyai tempat untuk berbicara secara jujur. Di sinilah silih asah, silih asih, silih asuh memperoleh makna baru sebagai ukuran apakah suatu hubungan benar-benar hidup.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lintaspriangan.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks