Pengalaman memperbarui sistem operasi Android saat ini jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Dulu, setiap rilis baru terasa seperti sebuah peristiwa besar yang dinanti-nantikan, setara dengan peluncuran ponsel flagship. Kini, meskipun frekuensi pembaruan semakin sering—mulai dari patch keamanan bulanan, fitur drop kuartalan, hingga upgrade sistem utama—sensasi "wow" tersebut perlahan memudar.
Perasaan ini diungkapkan oleh seorang pengguna setia Android yang telah memakai platform hijau tersebut selama 15 tahun, seperti dikutip dari ulasannya di Android Authority. Ia mengaku membeli Google Pixel 9 Pro XL karena tertarik pada kamera dan kebersihan sistemnya, namun kini justru diliputi keraguan terhadap arah pengembangan platform tersebut.
Janji 7 Tahun Pembaruan Kini Terasa Ibarat Iklan Menyesatkan
Google memang berjanji memberikan dukungan pembaruan selama tujuh tahun untuk perangkat Pixel terbarunya. Namun, niat baik tersebut terasa dikhianati oleh kebijakan perusahaan yang justru membatasi fitur AI terbaru hanya untuk perangkat anyar.
Fitur seperti Gemini Intelligence yang digadang-gadang memiliki kemampuan agen, kabarnya tidak akan hadir di Pixel generasi lama. Padahal, perangkat seperti Pixel 9 Pro XL yang baru berumur satu tahun seharusnya masih masuk dalam periode dukungan tersebut.
"Apa gunanya janji pembaruan tujuh tahun jika ponsel saya yang baru berusia satu tahun saja sudah tidak kebagian fitur terbaru?" tulis pengguna tersebut dalam ulasannya. Strategi ini dinilai hanya menjadi alat untuk memaksa konsumen melakukan upgrade hardware secara berkala.
Prioritas Google Salah Alamat: AI Dibanding Stabilitas Sistem
Fokus Google yang berlebihan pada kecerdasan buatan (AI) disebut-sebut menjadi biang keladi mandeknya inovasi yang benar-benar berarti bagi pengguna. Alih-alih menghadirkan perbaikan fundamental, Google justru sibuk menyematkan fitur AI ke dalam setiap sudut sistem operasi.
Padahal, masih banyak pekerjaan rumah yang belum beres. Pengguna telah lama mengeluhkan proses latar belakang yang tidak stabil dan boros baterai pada perangkat Pixel. Alih-alih mengalokasikan sumber daya untuk memperbaiki masalah klasik ini, Google lebih memilih mengembangkan fitur AI yang terkesan setengah jadi.
Beberapa fitur yang dihadirkan bahkan dianggap tidak berguna dan cepat ditinggalkan, seperti Pixel Studio atau Daily Hub yang kini telah dihentikan diam-diam. Pengguna lebih mengharapkan perbaikan pada hal-hal mendasar seperti mode desktop yang mumpuni, yang sebenarnya sudah lama disediakan Samsung lewat DeX.
Pembaruan yang Diinginkan Pengguna: Bukan Sekadar Gimmick AI
Keinginan pengguna sebenarnya sederhana: sistem yang stabil, hemat daya, dan efisien secara termal. Mereka lebih memilih peningkatan kualitas hidup yang nyata dibandingkan deretan fitur AI yang hanya menjadi pajangan.
Kustomisasi layar utama yang lebih berguna, sistem notifikasi terpadu yang rapi, atau perbaikan manajemen memori adalah contoh nyata yang berdampak langsung. Sayangnya, hal-hal semacam ini tampaknya bukan prioritas utama bagi tim pengembang Google saat ini.
Kejenuhan ini bukan hanya dirasakan oleh segelintir pengguna. Ini adalah sinyal bahwa Google perlu berhenti sejenak dari perlombaan AI dan kembali mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh basis penggunanya yang sudah setia selama bertahun-tahun.