KUNINGAN — Panggung Graha Wangi menjadi saksi bagaimana seni teater mampu meruntuhkan sekat diskriminasi. Selama dua hari, 14–15 Agustus 2026, para penyandang disabilitas dari tiga komunitas berbeda tampil sebagai aktor utama dalam pementasan karya Arip Hidayat. Mereka berdiri di atas panggung bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai seniman yang mengekspresikan kreativitasnya.
Pertunjukan ini lahir dari kolaborasi Teater Pecut, SLB C YPALB Perwari, dan Sekolah Linimasa. Pendanaan kegiatan berasal dari Dana Indonesiana Tahun Anggaran 2025.
Mengubah Cara Pandang Masyarakat terhadap Disabilitas
Pementasan ini sengaja dirancang untuk melawan stigma yang selama ini melekat. Alih-alih menyoroti kekurangan, pertunjukan justru menonjolkan kapasitas para pemain dalam menghayati peran dan menyampaikan pesan moral kepada penonton.
"Teater bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk berkarya dan mendapatkan apresiasi," menjadi benang merah yang ditekankan dalam pertunjukan tersebut. Keterbatasan fisik tidak lagi dijadikan alasan untuk membatasi ruang gerak seseorang di tengah masyarakat.
Diskusi Publik: Pendidikan, Seni, dan Aksesibilitas
Usai pementasan, acara dilanjutkan dengan forum diskusi yang menghadirkan tiga narasumber kunci. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Dr Carlan, MMPd, Ketua Dewan Kebudayaan Dr Bias Lintang Dialog, MKn, serta Manager BEEK Graha Wangi Agung M. Abul, S Pd, duduk bersama membahas masa depan ruang kreatif yang lebih inklusif.
Dr. Carlan menilai seni memiliki peran strategis dalam membangun kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek akademik semata. Sekolah perlu memberikan ruang setara bagi pengembangan kreativitas siswa disabilitas.
Senada dengan itu, Dr. Bias Lintang Dialog menyoroti pentingnya aksesibilitas fasilitas kebudayaan. Gedung kesenian, sanggar, dan kegiatan budaya dinilai harus ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Tanpa akses yang memadai, partisipasi mereka dalam dunia seni akan selalu terhambat.
Komitmen Graha Wangi untuk Ruang Kreatif Berkelanjutan
Dari sisi pengelolaan, Agung M. Abul menegaskan komitmen BEEK dan Gedung Graha Wangi untuk tidak berhenti pada satu kali pertunjukan. Pihaknya berencana mengembangkan program lokakarya, residensi seni, serta kegiatan kreatif lain yang melibatkan komunitas disabilitas secara berkelanjutan.
"Pertunjukan ini jangan berhenti sebagai kegiatan sekali selesai. Ruang seperti Graha Wangi harus terus menjadi tempat yang terbuka bagi teman-teman disabilitas untuk berkarya," ujarnya.
Langkah ini diharapkan menjadi preseden bagi pengelola ruang publik lain di Jawa Barat. Ketika panggung seni terbuka lebar, pesan kesetaraan tidak lagi sekadar diucapkan, tetapi benar-benar dipraktikkan.