JAWA BARAT — Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Pada pukul 09.38 WIB, mata uang Garuda diperdagangkan di Rp 17.864 per dollar AS, memperpanjang tren pelemahan dalam sepekan terakhir. Kondisi ini kontras dengan pergerakan IHSG yang menguat tipis, menandakan aliran modal asing masih belum sepenuhnya kembali ke pasar saham.
Bagi pelaku bisnis atau investor yang perlu menukarkan dollar, perbedaan kurs antar bank patut dicermati. Bank Mandiri (BMRI) menawarkan kurs beli (bank membeli dollar dari nasabah) paling rendah di Rp 17.625 per dollar AS untuk transaksi bank notes dan khusus di atas USD 25.000. Sementara itu, kurs jual (bank menjual dollar ke nasabah) termurah justru ada di BCA melalui layanan e-Rate, yakni Rp 17.898 per dollar AS.
Berikut rincian kurs dollar AS di tiga bank utama per pukul 09.38 WIB:
Selisih antara kurs beli dan jual — atau spread — menjadi indikator biaya transaksi yang harus ditanggung nasabah. Pada transaksi tunai di BCA, Mandiri, dan BNI, spread mencapai Rp 250 hingga Rp 315 per dollar AS. Artinya, jika nasabah membeli dollar lalu menjualnya kembali seketika, ia sudah merugi di kisaran angka tersebut.
Untuk transaksi digital melalui e-Banking, BCA menawarkan spread paling tipis, hanya Rp 20 per dollar AS. Namun, bank hanya menjamin kurs tersebut berlaku pada saat transaksi dan dapat berubah tanpa pemberitahuan. Nasabah juga diingatkan bahwa setiap transaksi valas di atas ambang batas tertentu wajib menyertakan dokumen underlying sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dollar, pelemahan rupiah ke Rp 17.864 berarti beban biaya bahan baku dan barang modal semakin berat. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dollar AS nilainya membengkak saat dikonversi ke rupiah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada intervensi signifikan dari Bank Indonesia. Pasar masih menunggu data inflasi domestik dan sinyal kebijakan suku bunga acuan AS sebagai penentu arah rupiah selanjutnya.