JAWA BARAT — Pagi ini, rupiah bergerak searah dengan mayoritas mata uang kawasan. Yen Jepang turun 0,14%, baht Thailand melemah 0,17%, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71%. Dolar Singapura dan yuan China juga tak luput dari tekanan, meski lebih moderat. Di negara maju, euro dan poundsterling kompak berada di zona merah, sementara franc Swiss melemah 0,27%.
Dua Beban Sekaligus: Geopolitik dan Kalender Ekonomi
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah hari ini akan cenderung konsolidatif. Ia memperkirakan rentang perdagangan berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS—yang artinya level Rp17.844 saat pembukaan sudah di luar estimasi atasnya.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Ia menambahkan, satu-satunya katalis positif yang bisa menahan laju pelemahan adalah harga minyak yang sudah menurun. Mengingat Indonesia masih menjadi net importir minyak, penurunan harga komoditas energi ini berpotensi menekan kebutuhan dolar untuk impor.
BI: Kebutuhan Valas Musiman Ikut Menekan
Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman turut memperburuk posisi mata uang Garuda.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Ia merinci, kebutuhan dolar AS saat ini meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Di saat yang sama, arus masuk dolar dari ekspor atau investasi portofolio masih terbatas, menciptakan ketimpangan permintaan-penawaran di pasar.
Intervensi BI: Siaga 24 Jam
Meski tekanan terus berlanjut, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas. Ramdan menyatakan pihaknya terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.
Pernyataan ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa otoritas moneter tidak akan membiarkan rupiah bergerak terlalu liar, meskipun tekanan global dan domestik sedang bertumpuk. Namun, efektivitas intervensi akan sangat tergantung pada data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis besok—dua indikator yang akan menjadi acuan pasar untuk membaca arah kebijakan BI ke depan.