BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat didesak segera menambah alokasi anggaran untuk kelanjutan pembangunan rumah panggung bagi warga terdampak banjir di Pondok Gede Permai, Kota Bekasi. Langkah ini diperlukan karena masih banyak warga di titik rawan tersebut yang belum mendapatkan bantuan hunian serupa.
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, M Faizin, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 80 kepala keluarga (KK) yang masih menanti sentuhan program bantuan ini. Padahal, konsep rumah panggung terbukti efektif meminimalisir kerugian warga saat debit air sungai meluap ke permukiman.
Hingga tahun 2026, realisasi pembangunan fisik di lokasi tersebut tercatat baru mencapai 10 unit. Jumlah ini menambah delapan unit rumah yang sudah lebih dulu rampung pada periode anggaran sebelumnya.
Target 80 Kepala Keluarga Belum Tersentuh Bantuan
"Kami berharap program ini bisa terus dikembangkan agar seluruh warga terdampak banjir dapat merasakan solusi yang sama. Sehingga dampak banjir bisa diminimalisir secara signifikan," ujar M Faizin dalam keterangan resminya di Bandung, Jumat.
Menurut Faizin, dukungan penuh anggaran dari Pemprov Jabar sangat krusial agar distribusi bantuan hunian ini bisa merata. Kesenjangan jumlah antara warga yang sudah dibantu dengan yang masih menunggu diharapkan bisa segera tertutup pada tahun anggaran mendatang.
Pondok Gede Permai tetap menjadi prioritas utama karena rekam jejak wilayahnya yang hampir setiap tahun terendam luapan sungai. Konsep hunian panggung dianggap sebagai jawaban teknis yang paling masuk akal bagi masyarakat yang tetap ingin bertahan di lahan mereka namun tetap aman dari bencana.
Spesifikasi Beton Pracetak dengan Anggaran Rp125 Juta
Secara teknis, satu unit rumah panggung ini menelan biaya pembangunan sekitar Rp125 juta. Konstruksinya menggunakan material beton pracetak yang sudah memenuhi standar nasional (SNI) untuk menjamin ketahanan bangunan dalam jangka panjang.
Keunggulan utama dari teknologi pracetak ini adalah kecepatan instalasi. Struktur utama bangunan diklaim mampu terpasang hanya dalam waktu dua hari, sementara proses penyelesaian hingga siap huni memakan waktu total sekitar empat bulan.
"Daerah ini langganan banjir setiap tahun, dengan konsep rumah panggung ini diharapkan warga tetap aman meskipun air menggenangi bagian bawah rumah," ucap Faizin.
Selain faktor keamanan dari air, desain rumah panggung ini menyisakan ruang terbuka pada bagian bawah. Area tersebut dirancang agar multifungsi, sehingga penghuni tetap bisa memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas harian saat kondisi cuaca normal.