BANDUNG — Keputusan AFC Disciplinary and Ethics Committee tertanggal 13 Mei 2026 menjadi pukulan telak bagi Maung Bandung. Sanksi ini dijatuhkan menyusul insiden usai pertandingan PERSIB kontra Ratchaburi FC pada 18 Februari 2026 dalam ajang AFC Champions League Two 2025/2026.
Denda Rp3,5 Miliar Hanya Awal dari Kerugian yang Lebih Besar
Manajemen klub melalui pernyataan resmi yang diunggah Jumat (15/5/2026) menegaskan dampak hukuman ini melampaui nominal denda. “Nilai tersebut bukan angka kecil. Dana sebesar itu sejatinya dapat dialokasikan untuk penguatan fasilitas klub, pembinaan jangka panjang, peningkatan kualitas operasional, hingga memperkuat daya saing tim,” demikian bunyi pernyataan resmi klub.
Penutupan Stadion Ancam Pendapatan Kandang PERSIB
Konsekuensi paling berat justru datang dari larangan menggelar pertandingan kandang dengan penonton. Manajemen PERSIB menyebut hukuman tanpa penonton berpotensi memangkas pendapatan pertandingan kandang secara signifikan. Padahal, laga kandang menjadi salah satu sumber pemasukan utama klub, terutama dari tiket dan penjualan merchandise.
Apa yang Bisa Dipelajari Bobotoh dari Insiden Ini?
Keputusan AFC ini menjadi pengingat keras bagi seluruh suporter PERSIB, Bobotoh, bahwa tindakan segelintir oknum di luar lapangan bisa berakibat fatal bagi klub. Kekerasan atau kerusuhan yang terjadi setelah laga kontra Ratchaburi FC pada Februari lalu menjadi penyebab utama sanksi ini. Manajemen klub secara implisit meminta Bobotoh untuk menjaga ketertiban dan menjadi contoh suporter yang profesional di mata Asia.
PERSIB kini harus menghadapi sisa kompetisi AFC tanpa dukungan langsung ribuan Bobotoh di tribun. Selain kehilangan atmosfer kandang yang selama ini menjadi kekuatan, klub juga harus merelakan potensi pendapatan yang hilang akibat stadion kosong.
Pelajaran Berharga untuk Klub Sepak Bola Indonesia
Sanksi dari AFC ini bukan hanya menjadi masalah PERSIB, tetapi juga peringatan bagi klub-klub Indonesia lainnya yang berlaga di kompetisi Asia. Standar keamanan dan perilaku suporter menjadi sorotan ketat konfederasi sepak bola Asia. Kejadian ini membuktikan bahwa sanksi finansial dan teknis bisa dijatuhkan tanpa pandang bulu jika keamanan pertandingan tidak terjamin.
Manajemen PERSIB memastikan akan terus berkoordinasi dengan AFC untuk langkah selanjutnya dan tetap berkomitmen pada profesionalisme. Namun, pesan paling jelas dari sanksi ini adalah bahwa kehilangan pendapatan akibat larangan penonton jauh lebih menyakitkan daripada denda Rp3,5 miliar itu sendiri.