Pencarian

4 Keutamaan Puasa Sunah Jelang Iduladha: Dari Pahala Setara Jihad hingga Ampunan Dosa Dua Tahun

Senin, 18 Mei 2026 • 11:35:01 WIB
4 Keutamaan Puasa Sunah Jelang Iduladha: Dari Pahala Setara Jihad hingga Ampunan Dosa Dua Tahun
Puasa sunah di sepuluh hari pertama Zulhijah memiliki keutamaan besar dalam Islam.

BANDUNG — Bulan Zulhijah menjadi salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Di dalamnya, amalan saleh seperti puasa sunah memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan disebut lebih dicintai Allah dibandingkan ibadah di luar bulan tersebut.

Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhari menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah selain sepuluh hari pertama Zulhijah. Para sahabat pun bertanya, apakah termasuk jihad sekalipun? Nabi menjawab, tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berperang dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali lagi.

Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa puasa sunah di awal Zulhijah, termasuk menjelang Iduladha, memiliki nilai spiritual yang setara dengan ibadah-ibadah besar lainnya.

Puasa Arafah: Penghapus Dosa Setahun Lalu dan Setahun Mendatang

Puncak dari rangkaian puasa sunah sebelum Iduladha adalah puasa Arafah yang jatuh pada 9 Zulhijah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.

Keutamaan ini berlaku bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Bagi yang tengah berwuquf di Padang Arafah, puasa tidak dianjurkan agar mereka tetap kuat dalam beribadah.

Para ulama menjelaskan bahwa pengampunan dosa tersebut mencakup dosa-dosa kecil, bukan dosa besar yang memerlukan taubat khusus. Meski demikian, kabar gembira ini tetap menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk memperbanyak amal di hari-hari terbaik tersebut.

Amalan yang Tidak Pernah Ditinggalkan Nabi

Rasulullah SAW dikenal rutin melaksanakan puasa pada sepuluh hari pertama Zulhijah. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan bahwa ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Nabi: puasa Asyura, puasa sepuluh hari Zulhijah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.

Ulama mengartikan "puasa sepuluh hari" dalam hadis tersebut sebagai puasa pada tanggal 1 hingga 9 Zulhijah. Adapun tanggal 10 Zulhijah adalah Hari Raya Iduladha yang diharamkan untuk berpuasa.

Puasa ini tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah SWT di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap melalaikan.

Hikmah di Balik Puasa Menjelang Iduladha

Secara spiritual, puasa Zulhijah mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan ketakwaan. Ketika jutaan umat Islam sedang berhaji di Tanah Suci, umat di berbagai penjuru dunia, termasuk di Jawa Barat, turut merasakan suasana ibadah dengan berpuasa dan memperbanyak zikir.

Puasa ini juga menjadi persiapan hati sebelum Iduladha, hari besar yang sarat makna pengorbanan dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbaiki hubungan sesama manusia.

Dengan dasar hadis-hadis sahih dan keutamaan yang telah dijelaskan, umat Islam diimbau untuk tidak melewatkan sepuluh hari pertama Zulhijah. Hari-hari tersebut adalah hari terbaik untuk meraih kemuliaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagikan
Sumber: spirits.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks