BOGOR — Kuta Udaya Wangsa, sebuah konsep yang mengandung spirit kebesaran dan peradaban, kini dijadikan landasan pembangunan Kabupaten Bogor. Yusfitriadi, dalam sebuah forum diskusi, memaparkan bahwa istilah tersebut bukan sekadar slogan, melainkan arah baru bagi tata kelola wilayah.
Pria yang akrab disapa YF itu menjelaskan bahwa "Kuta" bermakna benteng atau pusat, "Udaya" berarti kejayaan, dan "Wangsa" merujuk pada bangsa. Secara keseluruhan, frasa itu merepresentasikan cita-cita menjadikan Kabupaten Bogor sebagai episentrum kemajuan yang berakar pada nilai-nilai lokal.
Akar Filosofis yang Menggerakkan Pembangunan
Menurut Yusfitriadi, semangat Kuta Udaya Wangsa harus diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret. Bukan hanya pembangunan fisik, melainkan juga penguatan identitas budaya dan partisipasi masyarakat.
"Ini tentang bagaimana kita membangun peradaban dari akar rumput. Infrastruktur boleh maju, tapi jangan sampai nilai-nilai luhur luntur," ujarnya dalam diskusi yang digelar di Bogor, pekan lalu.
Menuju Pusat Peradaban yang Berbudaya
Gagasan ini dinilai relevan dengan visi Kabupaten Bogor yang tengah bertransformasi. Dari kawasan penyangga Jakarta, daerah ini ingin naik kelas menjadi pusat pertumbuhan baru yang mandiri dan berbudaya.
Yusfitriadi menambahkan, spirit Kuta Udaya Wangsa bisa menjadi pemersatu bagi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga komunitas seni dan budaya. "Tanpa gotong royong, kita hanya akan membangun kota tanpa jiwa," tegasnya.
Implementasi di Berbagai Sektor
Penerapan konsep ini tidak hanya berhenti di wacana. Beberapa program pembangunan di Kabupaten Bogor mulai mengadopsi pendekatan partisipatif dan pelestarian budaya. Misalnya, penataan kawasan wisata sejarah dan penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Langkah selanjutnya, kata Yusfitriadi, adalah menyusun peta jalan yang jelas agar spirit ini tidak redup seiring pergantian kepemimpinan. "Konsistensi adalah kuncinya. Peradaban tidak dibangun dalam satu malam," pungkasnya.