KUNINGAN — Babacakan atau Bebecekan menjadi pembuka rangkaian perayaan. Tradisi ini berupa pemotongan kambing yang kemudian dimasak dengan bumbu babacak—olahan berbasis kelapa parut. Daging matang dibagikan ke setiap wadah dan diantrekan per regu di lingkungan dusun.
Ritual Wawar atau Sedekah Bumi menyusul sebagai puncak kegiatan. Setiap warga membawa sedekah makanan dari rumah, lalu dikumpulkan dan ditukarkan kembali oleh panitia. Acara ditutup dengan doa tolak bala bersama yang digelar di perempatan Dusun Widara, bertepatan dengan malam 1 Suro atau 1 Muharram.
Gotong Royong dan Swadaya Warga Jadi Kunci
Ketua DKM Nurul Iman Dusun Widara, Uju, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara dikerjakan secara swadaya. “Bebecakan atau Babacakan dan Wawar selalu dilaksanakan dengan keterlibatan panitia dari setiap regu di Dusun Widara secara gotong royong,” ujarnya.
Menurut Uju, niat bersedekah di momentum 1 Suro merupakan amal kebaikan yang harus terus dijalankan. “Ini untuk saling berbagi rezeki berupa makanan,” tambahnya.
Menjaga Adat Istiadat di Tengah Modernitas
Imam Masjid Nurul Iman, Ust. Lebe Surdi, menegaskan bahwa Babacakan merupakan tradisi turun-temurun dari zaman dulu. “Niatnya dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam dan merupakan peringatan 1 Suro atau suraan dengan puncak kegiatan yaitu Wawar dan doa bersama,” katanya.
Kepala Dusun III Desa Mekarsari, Deni SH, menambahkan bahwa Suraan atau Suroan rutin digelar setiap tahun. Ia menekankan pentingnya menjaga adat istiadat bagi generasi penerus. “Hal ini penting bahwa menjaga adat istiadat dan tradisi adalah keharusan bagi generasi penerus,” tegasnya.
Perpaduan nilai religius dan kearifan lokal dalam tradisi Babacakan dan Wawar menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan warga Dusun Widara tetap terawat di tengah arus perubahan zaman.