BANDUNG BARAT — Jalan Cikareumbi di Desa Cikidang, Lembang, berubah menjadi lautan merah. Keranjang-keranjang berisi tomat afkir dibuka, dan ribuan pasang mata menanti aba-aba dimulainya Rempug Tarung Adu Tomat.
Suara kendang dan alunan musik Sunda mengiringi tujuh penari yang membawa tampah berisi topeng bambu serta perisai. Suasana lebih menyerupai pertunjukan budaya ketimbang sekadar permainan rakyat.
Dari Tarian hingga Lemparan Tomat
Topeng dan perisai diserahkan kepada 14 pria yang berdiri saling berhadapan. Mereka mengenakan rompi pelindung layaknya prajurit yang bersiap memasuki arena pertempuran.
Sesaat setelah aba-aba terdengar, tomat-tomat beterbangan dari dua arah. Buah merah pecah di atas jalan, menghantam perisai, rompi, hingga wajah para peserta. Tak ada kemarahan. Justru tawa dan sorak kegembiraan membalas setiap lemparan.
Wisatawan, warga sekitar, pegiat fotografi, hingga anak-anak melebur menjadi satu. Tak ada lagi batas antara penonton dan peserta.
Bukan Mencari Pemenang, Melainkan Perayaan
Perang tomat di Desa Cikidang bukanlah pertarungan untuk mencari pemenang. Warga menyebutnya sebagai perayaan yang lahir dari perjalanan panjang kehidupan petani Lembang.
Di balik kemeriahan, tersimpan cerita pahit. Pada 2011, harga tomat di tingkat petani hanya sekitar Rp 500 per kilogram. Angka itu jauh di bawah biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk menanam hingga memanen.
Hasil panen tomat kehilangan nilainya. Banyak petani memilih membiarkan buah itu membusuk di kebun.
Dari Krisis Menjadi Tradisi
Keresahan petani itulah yang kemudian melahirkan ide menggelar festival ini. Tomat afkir yang tidak laku dijual justru menjadi amunisi dalam perang tomat tahunan.
Kini, tradisi itu menjadi daya tarik wisata yang unik di Lembang. Ribuan orang datang untuk merasakan sensasi dilempari tomat di tengah iringan musik Sunda.
Tak ada rasa marah dalam setiap lemparan. Yang ada hanyalah tawa, kebersamaan, dan sebuah tradisi yang tumbuh dari keterpurukan harga tomat dua belas tahun silam.