Pencarian

Kopi Bandung Barat Tembus Pasar Australia hingga Eropa, Petani di Gununghalu Kirim 15,8 Ton ke Luar Negeri

Senin, 29 Juni 2026 • 23:01:02 WIB
Kopi Bandung Barat Tembus Pasar Australia hingga Eropa, Petani di Gununghalu Kirim 15,8 Ton ke Luar Negeri
Petani kopi Gununghalu, Bandung Barat, berhasil ekspor 15,8 ton kopi ke Australia, Jepang, Vietnam, dan Eropa.

BANDUNG BARAT — Kopi robusta dan arabica asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini tak hanya dikenal di dalam negeri. Biji kopi hasil kebun warga di Kecamatan Gununghalu dan Sindangkerta rutin dikirim ke Australia, Jepang, Vietnam, hingga negara-negara di Eropa dan Timur Tengah.

Salah satu penggerak ekspor itu adalah kelompok tani Java Halu Farm. Produk mereka telah menembus pasar lintas benua. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB, Lukmanul Hakim, menyebutkan permintaan ekspor terus bertambah hingga tahun depan.

“Ke Australia tercatat ada pesanan sebanyak 3,8 ton. Kemudian ke Jepang 2 ton, dan ke Vietnam bahkan mencapai 10 ton,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).

Dukungan Pemkab: Alat Pengolahan hingga Fasilitas Penjemuran

Lukmanul menambahkan, pemerintah daerah turut mendukung petani dengan memberikan pelatihan, menyediakan alat pengolahan, serta fasilitas penjemuran. Langkah ini dilakukan agar kualitas biji kopi tetap terjaga di tengah tingginya permintaan ekspor.

Keberhasilan Java Hulu Farm bukan satu-satunya cerita. Kelompok tani Ranting Estate di Cikalongwetan juga berhasil memasarkan kopinya ke negara-negara Asia Timur. Sementara itu, Kelompok Tani Global Makmur asal Lembang sudah mengirimkan hasil kebunnya hingga ke Jerman.

Jejak Kopi Priangan Sejak Abad ke-19

Kisah kopi di tanah Priangan ternyata sudah tercatat sejak berabad-abad silam. Dalam buku Priangan karya Andries de Wilde yang terbit tahun 1829, ia menggambarkan hamparan kebun kopi di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Bandung.

“Pemandangan dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung ke arah pegunungan sekelilingnya hamparan kebun kopi dan sawah berundak-undak menyerupai bangunan teater raksasa,” tulis Andries dalam karyanya.

Pada masa itu, pengiriman kopi masih mengandalkan perahu. Rute pengangkutan kopi dari Bandung Barat menuju Batavia harus menyusuri aliran Sungai Citarum, melewati Bayabang hingga tiba di Cikao. Kini, lokasi Bayabang yang berada di perbatasan KBB dan Cianjur sudah terendam Waduk Cirata, sementara Cikao di Purwakarta masih menyimpan jejak bekas tempat penyimpanan kopi zaman dulu.

Bagikan
Sumber: harapanrakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks