TASIKMALAYA — Hanya 9 dari 100 rumah tangga di Kabupaten Tasikmalaya yang teraliri air minum perpipaan. Angka itu setara dengan 77.040 sambungan dari total kebutuhan warga di 39 kecamatan. Kapasitas produksi air bersih saat ini tercatat 481,99 liter per detik, sementara tingkat kebocoran air (NRW) masih tinggi di angka 37,08 persen—jauh di atas standar nasional 25 persen.
Kondisi tersebut mendorong Pemkab Tasikmalaya menyusun RISPAM 2024-2044. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup (PUTRLH) Kabupaten Tasikmalaya, Deden Ramdhan Nugraha, menyebut dokumen itu bukan sekadar formalitas perencanaan.
Target Bertahap hingga 2044
Pemerintah menargetkan cakupan pelayanan perpipaan naik drastis menjadi 40,20 persen pada 2030. Artinya, dalam enam tahun ke depan, jumlah sambungan rumah harus bertambah lebih dari empat kali lipat dari kondisi sekarang. Target itu akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga 2044 seiring pembangunan jaringan distribusi baru.
“RISPAM menjadi peta jalan pembangunan sistem penyediaan air minum selama 20 tahun ke depan. Target akhirnya adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum yang layak, aman, dan berkelanjutan,” ujar Deden, Rabu (1/7/2026).
12 Mata Air dan Dua Sungai Jadi Andalan
Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi sumber air yang melimpah. Sedikitnya terdapat 12 mata air utama, antara lain Cipondok, Cikawali, Cisitu, dan Cibatu. Selain itu, air permukaan dari Sungai Ciwulan dan Sungai Cilangla akan dioptimalkan sebagai sumber baku.
“Potensi sumber air kita sangat baik. Tantangannya adalah bagaimana mengelolanya secara berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur, pengurangan kebocoran, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan jaringan distribusi,” kata Deden.
Mengatasi Kebocoran yang Masih Tinggi
Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah menekan angka kebocoran air yang mencapai 37,08 persen. Artinya, hampir 4 dari 10 liter air yang diproduksi hilang sebelum sampai ke pelanggan. Standar nasional menetapkan batas maksimal kebocoran 25 persen. Perbaikan jaringan pipa tua dan pengawasan distribusi menjadi prioritas dalam RISPAM.
Deden menambahkan, pengembangan layanan akan dilakukan secara bertahap di seluruh kecamatan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. “Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Perencanaan ini diarahkan agar sistem air minum tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu melayani generasi mendatang,” pungkasnya.